'Citra pemusik pria baik-baik berkontribusi pada krisis terbesar dalam karier Ed Sheeran'
- Penulis, Mark Savage
- Peranan, Music correspondent
- Telah diterbitkan
- Waktu membaca: 6 menit
Penyanyi asal Inggris, Ed Sheeran, tengah menghadapi kontroversi terbesar dalam kariernya setelah mencoret musikus Macklemore dari daftar artis pendukung yang ikut dalam turnya ke Amerika Serikat. Pencoretan itu terjadi menyusul pernyataan dukungan Macklemore terhadap warga Palestina.
Sheeran adalah salah satu penulis lagu paling sukses sepanjang masa. Dia telah menjual lebih dari 120 juta rekaman dan menghabiskan lebih dari 1.000 minggu di tangga lagu album di seluruh AS.
Sebagian dari daya tarik Sheeran, selain lagu-lagunya yang sangat mudah diingat, adalah personanya yang tampak seperti "orang pada umumnya".
Sheeran berpakaian seperti seorang penggemar yang baru saja pulang dari Glastonbury dan tidak terlihat seperti salah satu penampil utama dalam festival musik tersebut.
Sheeran dengan hati-hati memupuk citra publik yang tidak mengancam dan dapat diterima oleh semua orang.
Pada 2014, dia menyumbangkan seluruh pakaiannya ke toko amal. Pada tahun yang sama, dia mengadopsi anak kucing berusia satu bulan, menyelamatkannya dari eutanasia, dan menamainya Graham.
Saat ini, dia menjalankan sebuah badan amal yang menyediakan pelajaran musik untuk anak-anak di bawah usia 18 tahun di daerah asalnya, Suffolk.
Sheeran berusaha untuk tidak terlibat dalam politik. Dia biasanya hanya terlibat dalam kampanye untuk isu-isu seperti perlindungan hak cipta dan calo tiket. Dia juga pernah menyampaikan kekhawatiran tentang dampak Brexit pada musikus asal UK yang hendak melakukan tur.
Baca juga:
Namun seperti kebanyakan pelaku industri musik di UK, Sheeran condong ke kiri.
Pada 2017, Sheeran mengatakan bahwa dia mendukung pemimpin Partai Buruh saat itu, Jeremy Corbyn, meskipun tidak mendukungnya secara langsung saat kampanye.
"Orang-orang berpikir bahwa, karena saya tidak mendukungnya, saya bukan pendukung Corbyn," kata Sheeran kepada Sunday Times.
"Jika Anda mengenal saya sebagai pribadi dan mendengarkan musik saya, Anda akan dapat menebak dengan cukup tepat bahwa Corbyn adalah tipe orang yang sangat saya sukai," ujarnya.
Ketika menyangkut isu-isu non-musik, Sheeran lebih suka tetap berhati-hati. Alasannya, kata dia, bahwa musik harus menyatukan.
Sheeran memandang konsernya sebagai "tempat yang aman dan terlindung", yang dibangun di atas kemanusiaan bersama.
Namun pekan ini argumen itu telah runtuh, sekaligus menciptakan krisis bagi reputasi dan kariernya.

Sumber gambar, Getty Images
Sekarang, Anda mungkin sudah tahu cerita terbaru Sheeran.
Macklemore dipilih sebagai artis pembuka konser tur AS yang dijalani Sheeran.
Pada konser pertama Sheeran, 4 September lalu, di Metlife Stadium, New Jersey, Macklemore berpidato dengan mengatakan "Bebaskan Palestina". Di atas panggung, dia juga menunjukkan berbagai foto kehancuran di Gaza.
Pada konser berikutnya, Macklemore menyebut jumlah warga Gaza yang menjadi korban tewas sebagai bukti genosida, sebuah klaim yang ditolak Israel.
Macklemore lantas menghadapi kecaman. Organisasi StopAntisemitism menuduh Macklemore "menyerang" penonton.
Para pemilik stadion yang menjadi lokasi tur AS, yang tampaknya dipimpin oleh pebisnis super kaya Robert Kraft, menekan Sheeran dan promotornya. Mereka mendesak Sheeran mencoret Macklemore dari tur.
Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.
Klik di sini
Akhir dari Whatsapp
Setelah satu minggu diskusi di balik layar, kelompok pemilik stadion di AS itu berhasil.
Selasa (15/09), Sheeran mengeluarkan pernyataan yang mengatakan bahwa keputusan itu dibuat oleh promotor, bukan olehnya.
Sheeran mengatakan, "telah mencoba membangun jembatan antara kedua pihak, tetapi tidak berhasil."
Sheeran mengklaim, dia tidak terlibat dalam pencoretan Macklemore.
Sheeran beralasan, dia memegang keputusannya untuk menjauhkan diri dari perdebatan terkait Timur Tengah di depan umum—walau dia mengklaim bukan berarti dia tidak peduli.
"Saya sangat prihatin dengan konflik antara Israel dan Palestina," tulis Sheeran dalam pernyataannya.
"Penderitaan dan rasa sakit yang ditimbulkan di kedua belah pihak adalah tragedi kemanusiaan. Terlalu banyak perang di seluruh dunia yang menyebabkan penderitaan yang tak terukur, dan tidak satu pun dari perang tersebut yang boleh ditoleransi."
"Ada alasan mengapa saya tidak menggunakan platform profesional saya untuk politik—penonton saya termasuk kaum muda, seringkali anak-anak, dari semua latar belakang," tulisnya.

Sumber gambar, AFP via Getty Images
Namun pernyataan Sheeran itu mendapat reaksi keras.
Jika Sheeran begitu peduli pada anak-anak, kata para kritikus, mengapa dia tidak menyebutkan ribuan anak yang tewas di Gaza?
Sekelompok kritikus juga bilang, ketidakikutsertaannya dalam politik bukanlah mutlak. Sheeran pernah mengenakan kaus bertuliskan "keadilan untuk Grenfell" di Stadion Wembley pada 2018, setelah kebakaran Menara Grenfell.
Sheeran juga pernah mengisi Konser untuk Ukraina pada 2022. Dia merekam lagu protes tentang perang Ukraina dengan U2 awal tahun 2026.
Pertanyaan juga muncul tentang hubungannya dengan pengusaha Robert Kraft.
Sheeran bernyanyi di pernikahan pengusaha itu pada 2022. Dalam wawancara selanjutnya, Sheeran menyebut Kraft sebagai "individu yang sangat baik".
Jurnalis musik Jeffrey Ingold mengatakan, keputusan Sheeran mencoret Macklemore tampak seperti "sikap pengecut".
"Dia adalah salah satu musisi terbesar di dunia," kata Ingold kepada BBC Radio 5 Live.
"Dia punya kekuasaan dan pengaruh. Pada dasarnya dia telah lepas tangan dan berkata, ini bukan tanggung jawab saya.
"Dia punya pilihan, kan? Dia bisa saja mengatakan kepada promotor dan pemilik tempat pertunjukan, termasuk Robert Kraft, 'Anda tahu apa, kami tidak akan mengadakan pertunjukan di sana. Jika Anda tidak mengizinkan kami semua tampil, kami tidak akan melakukannya'. Dia bisa saja menemukan tempat alternatif," ujar Ingold.

Sumber gambar, Getty Images
Beberapa jam setelah pernyataan Sheeran muncul, tur konsernya mengalami krisis.
Tiga artis pendukung Sheeran untuk pertunjukan yang tersisa dalam tur AS, yaitu Finneas, Aaron Rowe, dan Lukas Graham, mengundurkan diri. Mereka menyatakan dukungan untuk Macklemore.
Beoga, yang membantu Sheeran untuk memainkan lagu-lagu seperti Galway Girl dan Nancy Mulligan, juga mengundurkan diri.
Banyak dari para musikus itu menyebut pemecatan Macklemore, di tangan sekelompok pemilik tempat pertunjukan yang juga berstatus jutawan, mencerminkan situasi yang mengerikan pada kebebasan berbicara.
Banyak individu, baik dari dunia musik maupun di luar industri ini, juga telah angkat bicara.
Bintang pop Pink, yang berdarah Yahudi, mengunggah meme anti-Macklemore. Dia melontarkan kritik terhadap rapper tersebut.
Tiba-tiba, di luar kehendaknya, Sheeran telah menjadi episentrum badai politik akibat salah satu isu paling memecah belah di dunia.

Sumber gambar, A. Perez Meca/ Getty Images
Bisakah Sheeran menangani persoalan dengan lebih baik? Tentu saja.
Dalam pernyataannya, Sheeran mengatakan ingin melanjutkan turnya di AS. Dia bilang tidak ingin mengecewakan para penggemar dan kru yang bergantung pada konsernya untuk mencari nafkah.
Jika Sheeran mengancam membatalkan pertunjukan, dia bisa membingkainya sebagai protes untuk kebebasan berbicara, meski itu pasti akan tetap ditafsirkan sebagai dukungan terhadap pernyataan Macklemore.
Jadi, Sheeran terjebak dalam situasi serba salah. Dia akan terkutuk dalam situasi apa pun.
Citra baiknya telah tercoreng, dan nada "bukan tanggung jawab saya" dalam pernyataannya tentu tidak membantu.
"Saya pikir ini akan mengubah cara orang memandangnya dan melihatnya mulai saat ini," kata Ingold.
"Sheeran mengatakan dia tidak terlibat, tetapi sebenarnya dia sangat terlibat dalam apa yang terjadi," ujarnya.
Jem Aswad, editor musik eksekutif Variety, menilai persoalan tersebut menunjukkan "Anda tidak bisa netral dalam masalah ini".
Di sisi lain, kata dia, situasi ini menunjukkan bahwa kebanyakan orang tidak pergi ke konser Sheeran untuk diingatkan tentang isu-isu seperti Gaza, "mereka pergi ke sana untuk berhenti memikirkannya dan terhibur".

Sumber gambar, Getty Images
Aswad ragu bahwa kontroversi ini akan merusak karier Sheeran. Menurutnya, sebagian besar kritik "belum tentu berasal dari penggemar Ed Sheeran".
"Itu berasal dari orang-orang yang keberatan dengan cara dia berperilaku dalam [situasi] ini, dan saya tidak yakin banyak dari orang-orang itu benar-benar penggemar Ed Sheeran," kata Aswad.
Kita akan mengetahui realitasnya ketika Sheeran memainkan pertunjukan berikutnya di Philadelphia, Sabtu (19/09) mendatang.
Sebagian kecil penggemar mungkin akan menyampaikan pendapat mereka, tapi banyak yang mungkin hanya akan datang untuk menikmati musiknya.
Kehilangan band pengiringnya juga bukanlah bencana seperti yang terlihat.
Pada tur sebelumnya, Sheeran adalah satu-satunya artis di atas panggung. Dia mengiringi dirinya sendiri dengan pedal loop alih-alih mengandalkan musisi lain.
Namun setelah rangkaian konser ini berakhir di Meksiko, Desember mendatang, Sheeran sepertinya perlu merencanakan ulang langkah yang akan dia tempuh selanjutnya.
Mungkin di era ketidakpuasan yang memanas, menghindar dari pro-kontra adalah hal yang mustahil.
Are you an Ed Sheeran fan? Get in touch.






























