Kematian Bambang Setyawan dan penangkapan 322 orang pascademo 27 Agustus – Apa yang diketahui sejauh ini?

Kendaraan dibakar massa.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja

Keterangan gambar, Kendaraan dibakar massa usai menggelar aksi di depan gedung DPR di kawasan Pejompongan, Jakarta, Kamis (27/08).
Telah diterbitkan
Waktu membaca: 8 menit

Setelah kerusuhan usai demonstrasi 27 Agustus di depan Gedung DPR/MPR RI, polisi masih menyelidiki kematian Bambang Setiyawan (59), warga yang diduga menjadi korban pengeroyokan di Pejompongan, Jakarta Pusat.

Sementara itu, 322 orang telah ditangkap dan 48 di antaranya ditetapkan sebagai tersangka terkait rangkaian perusakan dan kekerasan yang terjadi di sejumlah titik di Jakarta.

Ada pula seorang warga Faturohman (18), yang mengaku telah menjadi korban pemukulan di tengah kerusuhan.

Ketua Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), Muhammad Isnur, menilai ada "pola yang sama" dalam aksi lanjutan demo Agustus 2026, dengan temuan Komisi Pencari Fakta (KPF) pada demo Agustus 2025.

Berikut perkembangan yang diketahui sejauh ini.

Polisi tangkap 322 orang, 48 jadi tersangka

Polda Metro Jaya menyatakan telah menangkap 322 orang setelah demonstrasi 27 Agustus di depan Gedung DPR/MPR RI, Senayan, Jakarta Pusat.

Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Budi Hermanto, mengatakan, dari jumlah tersebut, 162 orang merupakan orang dewasa berusia 18 hingga 40 tahun yang ditangani Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya.

Polda Metro Jaya konferensi pers.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Angga Budhiyanto

Keterangan gambar, Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes Pol Iman Imanuddin (kedua kiri) menyampaikan keterangan pers terkait perkembangan penanganan situasi pascaaksi 27 Agustus, di Polda Metro Jaya, Jakarta, Jumat (28/8/2026).

"Dari kelompok usia, 162 orang dewasa berusia sekitar 18 sampai dengan 40 tahun yang ditangani oleh Ditreskrimum Polda Metro Jaya, serta 160 anak berusia rentang 12 sampai dengan 19 tahun," ujar Budi dalam konferensi pers, Jumat (28/08).

Menurut polisi, mereka yang ditangkap dituduh terlibat aksi perusakan, vandalisme, dan penganiayaan selama kerusuhan berlangsung.

Dalam penindakan tersebut, polisi mengklaim.telah menyita sejumlah barang bukti, antara lain golok, gunting, asahan pisau, ketapel, 19 mata panah, rantai besi, tongkat bambu, serta lembaran PVC.

Dalam perkembangan terpisah, Polda Metro Jaya telah menetapkan 48 orang sebagai tersangka.

Sebanyak 45 orang ditetapkan sebagai tersangka karena diduga melakukan perusakan fasilitas umum dan penganiayaan. Sementara tiga orang lainnya ditetapkan sebagai tersangka karena kedapatan membawa senjata tajam saat kericuhan berlangsung.

Kericuhan di depan Gedung DPR/MPR RI diduga pecah setelah polisi memukul mundur massa dengan menyemprotkan air.

Massa kemudian bergerak menuju wilayah Pejompongan hingga Palmerah, Jakarta Pusat.

Di wilayah tersebut, sejumlah fasilitas dan peralatan dibakar serta dirusak, termasuk kamera CCTV dan pos polisi.

Kematian Bambang Setiyawan

Lewati Whatsapp dan lanjutkan membaca
Akun resmi kami di WhatsApp

Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.

Klik di sini

Akhir dari Whatsapp

Selain penangkapan massal, terdapat seorang warga meninggal dunia. Warga tersebut bernama Bambang Setiyawan (59), yang tinggal di kawasan Bendungan Hilir, Tanah Abang, Jakarta Pusat.

Bambang diduga menjadi korban pengeroyokan di kawasan Pejompongan pada Kamis (27/08) malam. Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya menyatakan masih mengumpulkan fakta-fakta hukum terkait kasus tersebut.

"Kami sedang melakukan penyelidikan dan mengumpulkan fakta-fakta hukum yang ada di lapangan yang kami peroleh," kata Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes Pol Iman Imanudin.

Polisi mengaku sempat menerima laporan mengenai adanya korban pengeroyokan di lokasi. Namun, evakuasi tidak dapat langsung dilakukan karena situasi di lapangan belum kondusif.

"Sehingga pada saat lokasi itu sudah diamankan, Bidokes Polda Metro Jaya mengevakuasi seseorang laki-laki yang dalam kondisi pingsan," kata Budi.

Bambang kemudian dibawa ke Rumah Sakit Mintoharjo dan dinyatakan meninggal dunia. Jenazahnya selanjutnya dibawa ke RS Polri Kramat Jati untuk proses identifikasi dan visum.

Pramono Anung melayat ke rumah korban kerusuhan usai demo Agustus 2026.

Sumber gambar, KOMPAS.com/Ridho Danu Prasetyo

Keterangan gambar, Momen Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung melayat ke rumah Bambang Setiawan (59), korban pengeroyokan yang tewas dalam demonstrasi 27 Agustus pada Jumat (28/8/2026) malam.

Berdasarkan keterangan istrinya, Sudarsi (56), Bambang masih berjualan cermin di kawasan Pejompongan hingga Kamis sore.

Sekitar pukul 16.30 WIB, Sudarsi meminta suaminya menutup dagangan karena melihat massa mulai berdatangan.

"Saya lihat massa udah dari sana udah banyak, akhirnya saya bilang sama bapaknya, 'Itu massa udah banyak', saya bilang tutup. Pas dia melihat, 'Oh ya udah, tutup'. Saya bantuinlah," kata Sudarsi, melansir dari Kompas.com.

Setelah itu, Bambang sempat mengantar seseorang yang sakit ke Rumah Sakit Pelni bersama anaknya menggunakan sepeda motor sebelum kembali ke rumah pada malam hari, sekitar pukul 21.00 hingga 21.30.

Saat itu, situasi massa di Jalan Pejompongan Raya sedang didorong masuk ke kawasan tersebut.

Menurut keluarga, Bambang kemudian keluar lagi menuju area tokonya setelah menganggap situasi telah mereda. Namun, ia tidak pernah pulang.

Sekitar pukul 01.30 WIB, Sudarsi masih mencari suaminya. Ia sempat mendatangi tempat teman-teman Bambang dan meminta mereka menyampaikan kepada Bambang agar segera pulang jika bertemu.

Keluarga baru menerima kabar mengenai kondisinya pada Jumat (28/06) pukul 04.00 dini hari. Belakangan, mereka melihat video yang memperlihatkan Bambang diseret dan dikeroyok oleh sejumlah orang.

"Justru kita tahunya dari video. Kita enggak ada yang lihat jelas nih posisi mayat ini, posisi dia dipukulin, posisi dia dibawa, kita nggak tahu," tutur dia.

Di media sosial, warganet menuding organisasi kemasyarakatan Gerakan Rakyat Indonesia Bersatu (GRIB) Jaya sebagai pihak yang berhadapan dengan warga di sekitar Pejompongan, Jakarta Pusat, saat terjadi kerusuhan.

Namun, tudingan ini dibantah GRIB Jaya.

Baca juga:

Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, telah melayat ke rumah duka pada Jumat (28/08) malam.

Warga yang berkumpul di sekitar lokasi secara serentak menyampaikan tuntutan kepada pemerintah dan kepolisian.

"Usut tuntas! Tangkap pelakunya, Pak!" seru warga kepada Pramono saat ia meninggalkan rumah korban.

Warga lain jadi korban pemukulan

Di tengah penyelidikan atas kerusuhan di Pejompongan, Faturohman (18), warga setempat, disebut menjadi korban kekerasan. Ia mengaku dipukuli saat kericuhan pecah pada Kamis (27/08) malam.

Fatur mendapat kunjungan dari Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung di kediamannya pada Jumat (28/8/2026) malam, menurut pengamatan Kompas.com. Setelah pertemuan tersebut, ia dibawa menggunakan ambulans ke RSUD Tarakan, Jakarta Pusat, untuk menjalani perawatan sekaligus visum.

Saat dibawa ke rumah sakit, Fatur tampak masih mengalami luka di bagian wajah dan kepala.

Faturohman.

Sumber gambar, KOMPAS.com/Omarali Dharmakrisna Soedirman

Keterangan gambar, Faturohman (18), warga Pejompongan Raya, Jakarta Pusat, yang diduga jadi korban kekerasan setelah kerusuhan Kamis (27/06).

Beberapa perban terlihat menempel di kepalanya, sementara ia harus dibantu ayahnya, Dedi, untuk keluar dari rumah dan naik ke ambulans.

Menurut ibu Fatur, Rina, putranya dirujuk ke RSUD Tarakan setelah bertemu dengan Pramono.

"Sekarang mau dibawa ke RS Tarakan, tadi sudah ketemu Pak Gubernur, diminta dirawat saja di RS. Sekalian mau bikin visum," ujar Rina.

GRIB Jaya bantah terlibat

Organisasi kemasyarakatan Gerakan Rakyat Indonesia Bersatu (GRIB) Jaya disebut-sebut warganet sebagai pihak yang berhadapan dengan warga di sekitar Pejompongan, Jakarta Pusat, setelah demonstrasi pada Kamis (27/08).

GRIB Jaya juga dikaitkan dengan truk yang dibakar massa pada Kamis malam. Truk tersebut menjadi sasaran massa karena diduga mengangkut anggota ormas.

Pihak GRIB Jaya membantah pihaknya terlibat dalam kerusuhan yang terjadi usai demo di depan Gedung DPR/MPR RI, Senayan, Jakarta Pusat, pada Kamis (27/08 malam.

“Saya mengatakan bahwa GRIB tidak terlibat di dalam kerusuhan tersebut. Secara institusi, kelembagaan ya, kami orang hukum pasti mengetahui jika ada pergerakan-pergerakan seperti itu,” kata Kuasa hukum GRIB Jaya, Wilson Colling, saat dikonfirmasi Kompas.com, Jumat (28/8/2026).

Menurut Colling, tak ada instruksi yang disampaikan Ketua Umum GRIB Jaya, Rosario de Marshall alias Hercules, kepada anggotanya untuk turun dalam demonstrasi pada Kamis.

Dugaan keterlibatan anak dalam kerusuhan

Data polisi menunjukkan hampir separuh dari total 322 orang yang diamankan merupakan anak berusia 12 hingga 19 tahun.

Temuan itu menambah perhatian terhadap dugaan keterlibatan anak dalam kerusuhan yang terjadi setelah demonstrasi.

Dalam perkembangan terbaru, Direktur Reserse PPA/PPO Polda Metro Jaya Kombes Pol Rita Wulandari Wibowo mengatakan, 141 anak di antaranya telah dikembalikan kepada orangtua masing-masing.

Ketua Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), Muhammad Isnur, menilai ada "pola yang sama" dalam aksi lanjutan demo Agustus 2026, dengan temuan Komisi Pencari Fakta (KPF) pada demo Agustus 2025.

KBF, yang dibentuk oleh KontraS, YLBHI, dan LBH Jakarta menemukan bahwa rangkaian aksi demonstrasi pada Agustus 2025 lalu merupakan akumulasi kemarahan publik atas ketegangan elite, tarik-tambang kekuasaan dan tekanan ekonomi.

Fakta itu didapat KPF dari proses investigasi independen dan intelijen sumber terbuka (OSINT) selama lima bulan, dari September 2025 hingga Februari 2026, terhadap 115 Berita Acara Pemeriksaan (BAP), lebih dari 60 informan dan saksi.

"Peristiwa ini tidak hanya menimbulkan korban jiwa, pembakaran, dan penjarahan, tetapi juga memicu gelombang penangkapan massal, kriminalisasi aktivis, serta penyempitan ruang sipil yang belum sepenuhnya dijawab oleh negara," kata Ketua Umum YLBHI, Muhammad Isnur, saat jumpa pers di Jakarta, Rabu (18/02) lalu.

Selain itu, KPF juga menemukan adanya pola eskalasi yang terstruktur dan pergerakan massa yang sengaja terarah.

Sementara itu, demonstrasi Agustus 2025, juga disebut-sebut sebagai pemburuan "terbesar sejak Reformasi 1998," telah menciptakan "ketakutan."

Hingga Maret 2026, lebih dari 700 orang sudah diproses hukum. Penelusuran BBC bersama Project Multatuli menemukan bahwa mayoritas yang ditangkap adalah anak-anak muda di kelompok usia Generasi Z dan mereka yang bekerja di sektor informal.

Apa yang terjadi sebelumnya?

Demonstrasi 27 Agustus bermula dari aksi ribuan orang di depan Gedung DPR/MPR RI, Jakarta, yang menuntut pengesahan RUU Perampasan Aset.

Selain isu antikorupsi, sebagian kelompok yang hadir membawa tuntutan lain, mulai dari evaluasi program Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), hingga penanganan gempa di Nusa Tenggara Timur dan kebakaran hutan di sejumlah daerah.

Aksi tersebut diikuti berbagai kelompok masyarakat, termasuk Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB), yang sebelumnya telah mendirikan posko di depan kompleks parlemen sejak 21 Agustus.

Kerusuhan usai demo.

Sumber gambar, BBC Indonesia/Haryo Wirawan

Keterangan gambar, Berbagai lapisan masyarakat menggelar demonstrasi di depan gedung DPR, Jakarta, yang sempat diwarni aksi lempar batu pada Kamis (27/08) malam.

Menjelang malam, sebagian massa masih bertahan di depan Gedung DPR. Situasi kemudian memanas ketika terjadi saling dorong antara demonstran dan aparat.

Sejumlah orang melempar batu, kayu, dan botol ke arah kompleks parlemen, sementara polisi berupaya membubarkan massa yang bertahan di lokasi.

Kericuhan kemudian meluas ke sejumlah titik di Jakarta Pusat dan Jakarta Barat. Dua sepeda motor dibakar di dekat Pos Polisi Pejompongan, sementara sebuah pos polisi di kawasan Slipi dilaporkan dirusak dan dibakar.

Massa yang dipukul mundur dari kawasan DPR bergerak ke arah Pejompongan dan Palmerah, tempat sejumlah perusakan fasilitas publik terjadi hingga larut malam.

Artikel ini akan diperbarui secara berkala