Warga Papua ketakutan usai penembakan pilot AS – 'Papua benar-benar memerlukan jeda kemanusiaan'

Sumber gambar, SATGAS HABEMA
Masyarakat di pedalaman Kabupaten Yahukimo mengaku dihantui kekhawatiran setelah insiden penembakan yang menewaskan seorang pilot Amerika Serikat (AS).
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Perhubungan telah menghentikan sementara operasional penerbangan perintis di Wamena dan Dekai, Provinsi Papua Pegunungan.
Bagi masyarakat di wilayah itu, kehadiran pesawat perintis selama ini menjadi satu-satunya akses transportasi menuju kampung-kampung di wilayah tersebut.
Adapun menurut peneliti sosiologi di Pusat Riset Kewilayahan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), konsekuensi paling penting dari kasus penembakan itu akan "memperpanjang siklus kekerasan di Papua".
Cahyo menganalisa, kedua kelompok yang berkonflik, yaitu TPNPB-OPM (Tentara Nasional Nasional Papua Barat-Organisasi Pembebasan Papua) dan TNI-Polri, pada dasarnya punya tujuan berbeda.
TPBPB-OPM, demikian Cahyo, lebih ke pembebasan Papua sebagai negara yang merdeka.
Sementara, TNI-Polri menjadi kepanjangan tangan Jakarta dalam mempertahankan integrasi.
Keduanya disebutnya sama-sama memakai jalan kekerasan untuk mewujudkannya.
"Akhirnya, ekosistem kekerasan itu menguat," tegas Cahyo saat dihubungi BBC News Indonesia, Selasa (07/07).
Ketika kekerasan itu berlanjut, warga sipil Papua yang bakal disudutkan, katanya..
'Papua benar-benar memerlukan jeda kemanusiaan'
Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.
Klik di sini
Akhir dari Whatsapp
Ada tiga pembacaan terhadap penembakan pilot asal AS di Papua, sehubungan dengan pusaran konflik yang masih meletus di sana.
Ini diungkapkan oleh peneliti sosiologi di Pusat Riset Kewilayahan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Cahyo Pamungkas.
Pertama, penembakan warga sipil, terlebih berpaspor asing, akan melemahkan dukungan internasional kepada perjuangan TPNPB-OPM atas apa yang terjadi di Papua.
Kedua, dari sisi TPNPB-OPM penembakan adalah bentuk lain yang serupa dengan "penyanderaan pilot." Tujuannya: menarik atensi dunia internasional supaya konflik berpuluh-puluh tahun di Papua dapat dibawa ke meja perundingan untuk diselesaikan.
Ketiga, pembunuhan terhadap pilot AMA semestinya tidak terjadi selama TPNPB-OPM mematuhi prinsip hukum humaniter, bahwa warga sipil tidak boleh ditargetkan.
Pandangan ini, menurut Cahyo, dilontarkan kalangan pendeta, organisasi sipil, sampai akademisi.
Namun, yang perlu dicatat, realita kedua kelompok ini berada dalam posisi serta relasi yang timpang, Cahyo menekankan.
Jumlah pasukan TPNPB-OPM amatlah kalah jauh dengan TNI-Polri yang terus-menerus diterjunkan.
Volume pasukan yang tidak seimbang ini pada akhirnya melahirkan masalah-masalah di penerapannya.
Warga Papua, misalnya, sebagaimana dituturkan Cahyo, kerap menjadi korban penembakan lantaran dituding bagian dari TPNPB-OPM. Padahal tidak.
Hal ini terus terjadi sebab TNI-Polri dilindungi impunitas hukum, Cahyo menegaskan.
Selain itu, pengerahan TNI-Polri tidak semata untuk "pengamanan," terang Cahyo. Ujung-ujungnya, kehadiran mereka dimanfaatkan guna merebut lahan adat yang dijaga selama bergenerasi untuk mendukung proyek pembangunan pemerintah.
"Logikanya sama dengan logika kolonialisme kalau menurut saya. Ini ada perang, ada pendudukan, ada penguasaan tanah atau sumber daya alam," paparnya.
"Saya kira memang militer arahnya ke sana."
Situasi di Papua sudah membikin masyarakat sipil tersiksa. Kematian demi kematian selalu dijumpai dan hampir tanpa akuntabilitas, terang Cahyo.
Cahyo pesimis pemerintah akan mendengarkan permintaan untuk menurunkan ego dan menghentikan konflik di Papua sementara waktu.
Kendati demikian, kondisi di Papua hari ini benar-benar memerlukan "jeda kemanusiaan," ungkap Cahyo.
"Jeda itu nanti bisa dipakai untuk mengusut kasus-kasus kematian yang menyeret warga Papua dan menghukum siapa saja yang terlibat," tandasnya.
"Prioritasnya adalah masyarakat asli Papua."
'Satu-satunya jalan kami adalah pesawat'
Masyarakat di pedalaman Kabupaten Yahukimo mengaku kehilangan sekaligus dihantui kekhawatiran setelah insiden penembakan seorang pilot dan pembakaran pesawat perintis yang selama ini menjadi satu-satunya akses transportasi menuju kampung-kampung di wilayah tersebut.
Wewe Pahabol, warga Distrik Pronggoli, mengatakan masyarakat berduka karena menganggap pilot yang melayani penerbangan perintis sebagai sosok yang selama ini membantu kehidupan mereka.
"Yang paling kami rasakan adalah kehilangan. Kami juga berduka karena selama ini dia membantu dan menolong kami. Bagi kami dia seperti saudara sendiri," kata Wewe kepada BBC News Indonesia, Senin (06/07).
Pronggoli adalah sebuah distrik yang berada di Kabupaten Yahukimo, Provinsi Papua Pegunungan.
Menurutnya, pesawat perintis telah melayani masyarakat Papua selama puluhan tahun dan menjadi bagian penting dalam kehidupan warga pedalaman.
"Pesawat itu sudah puluhan tahun bersama kami di Papua. Sangat membantu masyarakat untuk masuk ke kota maupun kembali ke kampung," ucapnya.
Bagi masyarakat Yahukimo, kata Wewe, pesawat perintis bukan sekadar alat transportasi, tapi menjadi urat nadi pelayanan kesehatan, perdagangan, dan aktivitas sosial.
"Pesawat sangat penting, terutama untuk kesehatan dan masyarakat umum. Orang bisa pergi ke kota, menjual hasil kebun, membeli sabun, minyak goreng, lalu kembali ke kampung. Sangat membantu sekali," sebutnya.
Masyarakat juga memanfaatkan penerbangan perintis untuk membeli kebutuhan pokok menjelang hari-hari besar seperti Natal.
"Mereka pergi ke kota membeli beras dan kebutuhan lainnya, lalu kembali ke pedalaman. Karena pesawat ini disubsidi, harganya relatif murah sehingga sangat membantu masyarakat," ceritanya.
'Kalau pesawat tak ada, bagaimana kalau ada ibu hamil?'
Selain mengangkut penumpang dan barang, Wewe mengatakan pesawat juga menjadi andalan ketika terjadi keadaan darurat.
"Kalau ada kegiatan masyarakat atau keadaan darurat, pesawat selalu membantu. Saat masyarakat membutuhkan, mereka selalu hadir dan melayani kami dengan baik," jelasnya.
Selama ini, lanjutnya, warga menganggap para pilot dan kru pesawat sebagai bagian dari kehidupan masyarakat.
"Kami menganggap mereka teman, sahabat, bahkan seperti orang tua kami sendiri. Mereka selalu membantu kami dalam situasi apa pun," ucapnya.
Karena itu, kabar penembakan pilot dan pembakaran pesawat membuat warga merasa sangat kehilangan.
"Ibu-ibu di kampung sangat sedih dan menyesalkan kejadian ini. Pilot selama ini membantu masyarakat keluar masuk kampung. Sekarang sudah beberapa hari tidak ada lagi suara pesawat di udara," paparnya.
Di balik rasa duka itu, Wewe mengatakan masyarakat kini lebih dihantui kekhawatiran apabila layanan penerbangan dihentikan karena alasan keamanan.
"Kami sangat khawatir. Kalau nanti ada musibah di kampung atau ada kebutuhan mendesak bagaimana? Saat ini saja Wakil Bupati masih berada di distrik dan sulit kembali ke kota," akunya.
Menurutnya, kampung-kampung di Distrik Pronggoli hanya dapat dijangkau melalui jalur udara.
"Satu-satunya akses ke kampung kami adalah pesawat. Tidak ada jalan darat," jelasnya.
Dia khawatir maskapai menghentikan penerbangan ke wilayah pedalaman setelah insiden tersebut.
"Kami khawatir beberapa bulan ke depan tidak ada lagi pelayanan penerbangan ke distrik. Kalau pesawat tidak masuk lagi ke kampung, bagaimana kalau ada ibu hamil, orang patah tulang, atau warga yang sakit dan harus dibawa ke kota?" dia bertanya.
Meski masyarakat masih dapat memenuhi kebutuhan pangan dari kebun dan hasil alam, Wewe mengatakan penghentian penerbangan akan menyulitkan distribusi berbagai kebutuhan pokok.
"Kalau makanan masih ada ubi, air, dan makanan dari alam. Tapi, masyarakat akan kesulitan mendapatkan beras, minyak goreng, sabun, dan kebutuhan rumah tangga lainnya," sebutnya.
Dia menjelaskan anak-anak muda mungkin masih mampu berjalan kaki menuju kota, tetapi kondisi itu berbeda bagi warga lanjut usia.
"Kalau anak muda mungkin masih bisa jalan kaki. Tetapi orang tua sangat susah. Mereka harus naik gunung, turun lembah. Perjalanannya bisa dua hari, bahkan sampai satu minggu," jelasnya.
Menurut Wewe, persoalan terbesar adalah ketika masyarakat membutuhkan pelayanan kesehatan darurat.
"Kalau tidak ada pesawat, kami akan mengalami kesulitan yang sangat berat. Bahkan bisa menyebabkan orang meninggal karena tidak bisa segera dibawa berobat ke kota," tuturnya.
Dia mengatakan fasilitas kesehatan di tingkat distrik masih sangat terbatas.
"Memang ada gedung pelayanan kesehatan, tetapi tenaga kesehatannya terbatas dan obat-obatan juga sulit. Akhirnya masyarakat harus dirujuk ke kota," tegasnya.
Di kampungnya, kata Wewe, warga cukup sering mengalami kecelakaan saat berkebun atau memanjat pohon. Selain itu, ada ibu hamil yang sewaktu-waktu membutuhkan rujukan ke rumah sakit.
"Kalau ada yang patah tulang, jatuh, atau ibu hamil yang harus melahirkan di kota, tanpa pesawat kondisinya bisa sangat berbahaya," ucapnya.
'Harapan kami, semua pihak membuka hati'
Wewe menegaskan masyarakat tidak mendukung penyerangan terhadap pilot maupun pesawat perintis.
"Kami tidak setuju dan tidak senang dengan kejadian ini. Pilot seharusnya dilindungi karena mereka masyarakat sipil yang selama ini membantu dan menolong kami," paparnya.
Dia berharap semua pihak memikirkan nasib masyarakat pedalaman yang sangat bergantung pada transportasi udara.
"Harapan kami, semua pihak bisa membuka hati untuk memikirkan masyarakat. Yang melakukan ini bukan masyarakat kampung," tandasnya.
Dia juga meminta pemerintah dan maskapai tetap melayani wilayah pedalaman.
"Kami berharap pemerintah dan perusahaan penerbangan tetap melayani kami karena kami sangat membutuhkan pesawat. Kami tidak bisa berjalan kaki ke kota. Satu-satunya akses kami adalah pesawat," tandasnya.
Wewe berharap komunikasi antara pemerintah dan seluruh pihak terus dilakukan agar pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan dan kejadian serupa tidak kembali terjadi.
"Yang paling penting, masyarakat di pedalaman jangan sampai menjadi korban karena kami sangat bergantung pada pesawat untuk pelayanan kesehatan dan kebutuhan hidup sehari-hari," tegasnya.
Wewe berharap pemerintah segera berkomunikasi dengan maskapai yang melayani penerbangan perintis agar layanan ke wilayah pedalaman dapat kembali berjalan.
"Harapan kami kepada pemerintah, pelayanan penerbangan di 51 distrik ini tetap berjalan karena kami sangat membutuhkan. Semoga pemerintah bisa berkomunikasi dengan pihak AMA supaya beberapa bulan ke depan penerbangan bisa kembali melayani masyarakat," ujarnya.
Menurut Wewe, penghentian penerbangan akan berdampak langsung pada kehidupan masyarakat di pedalaman.
"Kalau pesawat berhenti, banyak masyarakat akan mengalami kesulitan, terutama ibu hamil, pelayanan pendidikan, pelayanan kesehatan, dan masyarakat umum," paparnya.
Dia juga menyampaikan harapan agar pesawat perintis tetap difungsikan untuk pelayanan sipil.
"Kami berharap tentara dan polisi jangan menggunakan pesawat perintis kecil itu. Jangan sampai pesawat yang melayani masyarakat dianggap bekerja sama dengan salah satu pihak, sehingga akhirnya menjadi sasaran dan masyarakat yang menjadi korban," tuturnya.
Menurut Wewe, pesawat perintis seharusnya tetap dijaga sebagai sarana transportasi yang melayani kebutuhan warga sipil di pedalaman.
"Harapan kami, pesawat itu tetap dipakai untuk melayani masyarakat sehingga masyarakat bisa tetap mendapatkan pelayanan dengan aman," tutupnya.
Penghentian sementara penerbangan ke Wamena dan Dekai
Sebelumnya, peristiwa penembakan pilot asal AS, Nicholas F. Goselin, yang membawa pesawat dari maskapai PT Associated Mission Aviation (AMA), berujung penghentian sementara operasional penerbangan perintis di Wamena dan Dekai, Provinsi Papua Pegunungan.
Informasi tersebut berasal dari surat yang ditujukan kepada Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan.
Pembuat suratnya yakni Kepala Kantor Unit Penyelenggara Bandar Udara (UPBU) Kelas I Wamena, Fitrajaya Siwu.
BBC News Indonesia memperoleh salinan dokumennya.
Dalam surat bertanggal 2 Juli 2026 ini dijelaskan bahwa penghentian sementara operasional penerbangan ditempuh sebab "kejadian pembakaran pesawat PT AMA" oleh "pihak yang tidak bertanggungjawab."
Penghentian sementara dilakukan "sampai situasi keamanan dinyatakan kondusif" serta "operasional penerbangan dapat dilaksanakan kembali secara aman."
Cakupan penghentian sementara menyasar daerah Wamena dan Dekai di Provinsi Papua Pegunungan.
Selama masa penghentian sementara, pihak otoritas penerbangan bakal berkoordinasi dalam memantau situasi yang berkembang.
Kantor UPBU Kelas I Wamena belum dapat memastikan kapan operasional penerbangan perintis bisa dijalankan lagi.

Sumber gambar, TPNPB/Jubi
Bagaimana kronologi kejadian?
Pilot pesawat PT AMA menjadi korban serangan di Bandara Ipdeheik pada Kamis (02/07) lalu.
Berdasarkan informasi awal yang diterima dari UPBU Kelas I Wamena, pesawat perintis jenis pilatus milik PT AMA berangkat dari Bandar Udara Wamena pada pukul 06.30 WIT dengan membawa satu orang pilot dan tujuh penumpang.
Pesawat dilaporkan mendarat di Lapangan Terbang Balinggama pada pukul 06.46 WIT.
Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan menyebut tidak diperoleh adanya informasi terkait kondisi keamanan di area sekitar lapangan terbang tersebut yang menunjukkan adanya situasi keamanan yang tidak kondusif.
Sebelum penerbangan dilaksanakan, klaim Kemenhub, informasi cuaca pada rute penerbangan dilaporkan dalam kondisi baik.
Namun demikian, berdasarkan laporan awal, tidak terdapat penyampaian informasi mengenai situasi keamanan dari Lapangan Terbang Balinggama sebelum pesawat mendarat.
Setelah pilot melaporkan bahwa pesawat telah mendarat, komunikasi dari pos area di lapangan terbang tersebut dilaporkan terputus.
Kuat dugaan, begitu mendarat dan menurunkan muatan, sekelompok orang yang diklaim sebagai Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) menyerang dan membakar pesawat.
Pihak otoritas bandara di Wamena baru menerima laporan darurat dari Manajer PT AMA beberapa jam kemudian, tepatnya pada pukul 09.39 WIT.
Kepala Bandara Nop Goliat Dekai, yakni bandar udara yang melayani Distrik Dekai, ibu kota Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan, menuturkan laporan mengenai terjadinya serangan maupun pembakaran itu berasal dari pilot Susi Air yang melayani rute Dekai-Hilari-Dekai pada pukul 09.49 WIT.

Sumber gambar, Ikbal Asra
Juru Bicara TPNPB, Sebby Sambom, mengklaim pihaknya bertanggung jawab atas serangan terhadap pilot warga Amerika Serikat beserta pembakaran pesawat tersebut.
Sebby menyatakan TPNPB telah menembak mati Nicholas F. Goselin lantaran diduga mengangkut pasukan dan logistik militer Indonesia ke provinsi yang tengah bergejolak itu.
Kehadiran pesawat itu, klaimnya, melanggar larangan mereka terhadap penerbangan sipil di wilayah-wilayah yang dianggap kelompok tersebut sebagai zona operasi.
Sementara itu, Komandan TPNPB Kodap XVI Yahukimo, Elkius Kobak, juga mengklaim bahwa penembakan terhadap pilot Nicholas dilakukan atas perintahnya.
Dia berkata mereka telah mengeluarkan ultimatum yang melarang seluruh pesawat sipil memasuki wilayah operasional TPNPB Kodap XVI Yahukimo.
"Kami juga menyampaikan kepada pemerintah AS, melalui kedutaan besarnya di Indonesia, dan kepada negara-negara anggota PBB bahwa penembakan terhadap pilot Amerika ini merupakan konsekuensi dari kesalahan pemerintah Indonesia, AS, Belanda, dan PBB," ucap Elkius.
"Yang gagal mengatasi akar masalah konflik di Papua antara militer Indonesia dan TPNPB yang telah berlangsung selama 64 tahun."
Akibat konflik berkepanjangan itu, sambungnya, setidaknya puluhan ribu warga sipil tewas dan ratusan ribu warga adat Papua terpaksa mengungsi ke berbagai wilayah tanpa bantuan kemanusiaan melalui Komite Palang Merah Indonesia (ICRC).
Karenanya, Elkius maupun Sebby mendesak PBB untuk memfasilitasi perundingan yang melibatkan pemerintah Indonesia, TPNPB, dan perwakilan rakyat Papua.
Serta, memperingatkan bahwa kelompoknya bakal terus menargetkan pesawat sipil lain yang diyakini membantu operasi militer di wilayah tersebut.
Menanggapi tuduhan TPNPB, Uskup Jayapura, Mgr. Yanuarius Theofilus Matopai You, membantah tudingan yang menyebut pesawat milik PT AMA digunakan untuk mengangkut personel militer, amunisi, maupun terlibat dalam operasi keamanan di Papua.
Dia mengklaim, sejak maskapai itu beroperasi 67 tahun lalu, penerbangan misi gereja semata-mata ditujukan untuk pelayanan kemanusiaan dan menjangkau masyarakat di wilayah terpencil.
"Gereja Katolik ada untuk pelayanan manusia, murni seratus persen. Tidak ada kepentingan-kepentingan politik di balik itu, sama sekali tidak ada. Gereja ada, alat transportasi amal ini diadakan hanya untuk murni pelayanan manusia," kata Yanuarius dalam konferensi pers di Jayapura, Jumat (03/07).
"Kalau memang kami kedapatan mengangkut anggota TNI, Polri, KKB, TPNPB, atau membawa amunisi, silakan. Tapi, selama ini tidak ada."
PT AMA membantah keras bahwa pesawatnya mengangkut pasukan keamanan, seperti halnya yang dituduhkan TPNPB-OPM. Selama ini, penerbangan PT AMA difungsikan untuk melayani masyarakat di pedalaman, termasuk urusan keagamaan.
PT AMA mengutuk pembunuhan pilot dan pembakaran pesawat yang dilakukan TPNPB-OPM.
Wartawan Ikbal Asra berkontribusi dalam laporan ini.




























