Putri Thailand Bajrakitiyabha wafat setelah koma lebih dari tiga tahun

Princess Bajrakitiyabha

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Putri Bajrakitiyabha adalah anak sulung Raja Vajiralongkorn.
    • Penulis, Jonathan Head
    • Peranan, Koresponden Asia Tenggara
    • Melaporkan dari, Bangkok
  • Telah diterbitkan
  • Waktu membaca: 3 menit

Putri Bajrakitiyabha, yang berada dalam keadaan koma selama lebih dari tiga tahun, telah meninggal dunia, demikian diumumkan oleh Kerajaan Thailand. Mendiang berusia 47 tahun.

Sang putri kolaps pada Desember 2022 saat sedang melatih anjing-anjingnya.

Dokternya mengaitkan hal tersebut dengan detak jantung yang sangat tidak teratur, yang disebabkan oleh infeksi mycoplasma di jantungnya.

Selepas kematiannya, keluarga Kerajaan Thailand kehilangan anggota yang paling terlihat pencapaiannya, serta sosok yang mungkin memainkan peran penting dalam suksesi yang masih belum jelas.

Putri Bajrakitiyabha adalah anak sulung dari tujuh anak Raja Vajiralongkorn. Dia lahir pada 7 Desember 1978 dari istri pertama raja sekaligus sepupunya, Putri Soamsawali.

Putri Bajrakitiyabha menyalami warga Thailand dalam peringatan kematian Raja Chulalongkorn di Bangkok, Thailand, 23 Oktober, 2020.

Sumber gambar, Reuters

Keterangan gambar, Putri Bajrakitiyabha menyalami warga Thailand dalam peringatan kematian Raja Chulalongkorn di Bangkok, Thailand, 23 Oktober 2020.

"Tim medis telah memberikan perawatan yang paling maksimal dan intensif, namun kondisinya terus menurun secara progresif," kata pihak istana dalam sebuah pernyataan pada Jumat (12/06) pagi.

Istana Kerajaan menambahkan bahwa sang putri meninggal pada pukul 19:48 waktu setempat, sehari sebelumnya di Rumah Sakit Chulalongkorn.

Mendiang menempuh pendidikan sebagai pengacara, meraih dua gelar pascasarjana dari Cornell University di Amerika Serikat.

Dia sempat bekerja di Perwakilan Thailand untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York, sebelum kembali ke Thailand dan bekerja di kantor Kejaksaan Agung di Bangkok dan wilayah lainnya di negara tersebut.

Putri Bajrakitiyabha (kiri) bersama ayahnya, Raja Vajiralongkorn, dan Ratu Suthida pada 2020.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Putri Bajrakitiyabha (kiri) bersama ayahnya, Raja Vajiralongkorn, dan Ratu Suthida pada 2020.

Dari 2012 hingga 2014 ia menjabat sebagai duta besar Thailand untuk Austria, tempat dia membangun hubungan dengan Lembaga Pemberantasan Narkoba dan Kejahatan di bawah naungan PBB (UNODC).

Dia mulai menyuarakan perlunya reformasi pemasyarakatan, dengan fokus khusus pada perempuan rentan yang berakhir di penjara. Sebagai catatan, jumlah narapidana perempuan di Thailand termasuk yang tertinggi di dunia.

Setelah kembali ke Thailand, ia menjadi Duta UNODC untuk Supremasi Hukum di Asia Tenggara, dan terus mendorong reformasi sistem peradilan pidana Thailand. Di negara itu, hukuman berat sering dijatuhkan kepada orang yang terbukti memiliki narkoba dalam jumlah relatif kecil.

Pada 2021 ayahnya mengangkatnya sebagai kepala staf dalam pengawal pribadinya, memberinya pangkat jenderal.

Putri Bajrakitiyabha juga dikenal sebagai penggemar kebugaran yang kerap mengikuti lomba lari jarak jauh.

Putri Bajrakitiyabha bersepeda di Bangkok pada 2015.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Putri Bajrakitiyabha di Bangkok pada 2015.
Lewati Whatsapp dan lanjutkan membaca
Akun resmi kami di WhatsApp

Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.

Klik di sini

Akhir dari Whatsapp

Kemampuannya, serta kepercayaan yang tampaknya dimiliki ayahnya terhadap dirinya, menjadikannya topik spekulasi yang tak terelakkan terkait suksesi kerajaan.

Raja Vajiralongkorn, yang berusia 73 tahun, belum menunjuk pewaris takhta.

Kebiasaan di Thailand mengharuskan takhta diwariskan ke laki-laki. Namun amandemen konstitusi pada 1974 memungkinkan seorang perempuan naik takhta.

Sang raja memiliki lima putra. Namun empat putra dari pernikahan keduanya dicabut statusnya pada 1996 dan sejak itu tinggal bersama ibu mereka di Amerika Serikat.

Putra kelimanya, Dipangkorn, dari istri ketiganya, dianggap sebagai pewaris, meskipun muncul pertanyaan mengenai kemampuannya menjalankan peran sebagai raja mengingat institusi kerajaan di Thailand punya pengaruh yang sangat besar.

Bagi banyak pendukung kerajaan Thailand, Putri Bajrakitiyabha tampak sebagai sosok paling menjanjikan untuk menggantikan ayahnya, baik sebagai ratu maupun sebagai wali yang membantu Pangeran Dipangkorn.

Kematian dirinya membuat pertanyaan suksesi di Thailand tetap tidak terjawab, dan kerasnya hukum lese majeste di negara tersebut menutup kemungkinan adanya pembahasan publik mengenai hal itu.