'Rasanya seperti film horor' – Ameba 'pemakan otak' yang telah menyebar ke seluruh dunia

Tampilan yang diperbesar dari Naegleria fowleri, yang juga disebut “amoeba pemakan otak”, dengan ekspresi menyerupai badut berlatar belakang hitam.

Sumber gambar, Bruno da Rocha-Azevedo, Herbert B. Tanowitz and Francine Marciano-Cabral / Interdisciplinary Perspectives on Infectious Diseases

Keterangan gambar, Naegleria fowleri, yang lebih dikenal sebagai "ameba pemakan otak", menyerang jaringan otak.
    • Penulis, Isabel Shaw
    • Peranan, Kesehatan Global
  • Telah diterbitkan
  • Waktu membaca: 5 menit

Hanya beberapa hari setelah liburan keluarga yang menyenangkan, Steve Smelski berada di sisi ranjang putranya di unit perawatan intensif rumah sakit. Dia berduka atas kematian anak satu-satunya.

Jordan, yang saat itu berusia 11 tahun, meninggal akibat infeksi otak yang disebabkan oleh Naegleria fowleri—yang lebih dikenal sebagai "ameba pemakan otak".

Ameba ini biasanya ditemukan di danau air hangat, kolam air panas, dan kolam yang terbengkalai. Dia masuk ke dalam tubuh melalui lubang hidung orang yang menyelam di dalam air—dan dengan cepat mulai menyerang jaringan otak.

"Jordan berenang satu hari, satu kali dan [sekarang] dia sudah tiada," kata Steve, 67 tahun, kepada BBC World Service.

Tahun lalu, lebih dari 200 kasus infeksi Naegleria fowleri teridentifikasi di India—wabah terbesar yang pernah tercatat secara global. Kasus-kasusnya terus muncul di negara itu dalam beberapa bulan terakhir.

Sebelumnya, kurang dari 500 kasus pernah teridentifikasi di seluruh dunia.

Wabah tersebut memunculkan kembali kekhawatiran di kalangan peneliti. Sebab organisme itu kini terdeteksi di tempat-tempat yang dulunya jarang ditemukan.

"Saya pikir akan ada lebih banyak kasus di masa depan. Kita akan melihatnya di seluruh dunia," kata Dr Anastasios Tsaousis, ahli parasitologi molekuler di University of Kent, Inggris.

'Ameba itu merenggut pikiran manusia'

Jordan Smelski

Sumber gambar, Steve Smelski

Keterangan gambar, Jordan Smelski terinfeksi saat berlibur pada 2014.

Steve, yang berasal dari Florida di AS, menghabiskan waktu berjam-jam meluncur di seluncuran air bersama putranya di sebuah kolam air panas alami dekat hotel mereka di Kosta Rika. Setelah itu, Jordan mulai mengalami sakit kepala.

Pulang dari Kosta Rika, rasa sakit Jordan semakin parah dan dia mulai muntah.

Orang tuanya memutuskan membawanya ke rumah sakit setempat. Namun dia mulai berhalusinasi dan mengaku melihat serangga merayap di langit-langit.

"Dia melihat kami, tetapi tidak tahu siapa kami. Saya rasa dia juga tidak tahu siapa dirinya," kenang Steve.

Steve dan putranya Jordan tersenyum ke arah kamera sambil berdiri di samping seluncuran air di mata air panas tempat Jordan terinfeksi.

Sumber gambar, Steve Smeski

Keterangan gambar, Salah satu foto terakhir yang diambil Steve bersama Jordan adalah di seluncuran air, tempat ia tertular infeksi mematikan.

Saat para dokter bergegas mencari tahu apa yang terjadi pada Jordan, dia mengalami kejang dan dibawa ke unit perawatan intensif, tempat ia kemudian meninggal.

"Dalam tujuh setengah hari sejak berenang, dia sudah tiada," kata Steve.

"Sebelumnya dia tidak punya masalah kesehatan apa pun. Dia benar-benar sehat."

Jordan meninggal akibat primary amoebic meningoencephalitis (PAM), infeksi otak yang disebabkan oleh Naegleria fowleri.

Baca juga:

Seperti banyak korban PAM lainnya, pada awalnya Jordan diduga menderita meningitis karena gejala kedua kondisi tersebut dapat terlihat mirip pada tahap awal.

Saat dokter akhirnya menyadari penyebabnya, semuanya sudah terlambat.

Infeksi itu telah memicu pembengkakan parah di otaknya, menyebabkan kerusakan yang tidak dapat dipulihkan.

"Penyakit itu merenggut pikiran manusia, merenggut jati diri," kata Steve.

Mengapa ameba itu muncul di tempat-tempat baru?

Lewati Whatsapp dan lanjutkan membaca
Akun resmi kami di WhatsApp

Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.

Klik di sini

Akhir dari Whatsapp

Antara 1962 dan 2023, sebanyak 488 kasus—sebagian besar ditemukan di bagian selatan AS, Pakistan, dan Australia—dilaporkan ke khalayak dunia, menurut tinjauan tahun 2025 yang diterbitkan dalam Journal of Infection and Public Health.

Sekitar 97% dari mereka meninggal.

Namun dalam 20 tahun terakhir, kasus-kasus serupa banyak terdeteksi di negara-negara belahan bumi utara, termasuk Italia dan Belgia.

Kasus-kasus baru juga telah dilaporkan di bagian utara AS yang lebih sejuk dalam 15 tahun terakhir, termasuk Minnesota. Tahun lalu Slovakia mencatat kasus infeksi Naegleria fowleri pertama yang terkonfirmasi.

Baca juga:

Kasus-kasus tersebut terjadi di luar danau dan sungai yang secara umum dikaitkan dengan ameba tersebut.

Di Taiwan, seorang pria meninggal pada 2023 setelah terpapar Naegleria fowleri di fasilitas selancar dalam ruangan.

Pada tahun yang sama di AS, seorang balita terinfeksi secara fatal setelah terpapar area bermain air yang terkontaminasi.

Cara ameba masuk otak

"Ketika air menjadi lebih hangat, [ameba] akan lebih aktif," kata Tsaousis.

"Lalu ada [juga] peluang yang lebih besar bagi orang yang tertular saat melakukan aktivitas rekreasi."

Dia mengatakan tidak ada alasan untuk panik, tetapi masyarakat perlu "waspada" terhadap risiko yang meningkat.

Selain itu, ia meyakini para ilmuwan semakin baik dalam mendeteksi ameba tersebut, yang mungkin turut menyebabkan lebih banyak kasus tercatat.

"Hipotesis saya adalah jumlah kasus mungkin memang selalu tinggi, hanya saja sekarang kita menyadari peningkatan itu karena kita sudah tahu cara mengujinya," kata Tsaousis.

Mengapa anak-anak lebih berisiko?

Menurut para ahli, anak-anak lebih mungkin terinfeksi Naegleria fowleri dibandingkan orang dewasa.

"Usia rata-rata orang yang menderita penyakit ini jika terinfeksi adalah 12 tahun, karena anak-anak senang bermain air dan memercikkan air hangat," kata Prof Ian Wright, pakar ilmu air di Western Sydney University.

"Sungguh kejam," tambahnya.

Gejala penyakit ameba Naegleria fowleri

Beberapa ilmuwan juga berpendapat anak-anak mungkin punya risiko lebih besar tertular infeksi karena penghalang antara hidung dan otak lebih mudah ditembus ameba pada usia muda.

"Ini seperti mimpi buruk, film horor, atau novel Stephen King," kata Wright.

"Kemungkinannya sangat kecil Anda akan terkena, tetapi jika terkena, Anda mungkin akan meninggal."

Jika terdeteksi pada tahap awal, dokter berusaha menangani pasien dengan kombinasi beberapa obat, disertai langkah-langkah untuk mengurangi pembengkakan di otak.

Meski demikian, peluang bertahan hidup tetap sangat kecil.

Namun wabah terbaru di Kerala, salah satu negara bagian di selatan India dan tujuan wisata populer, menantang anggapan tentang penyakit ini.

Setengah dari 200 orang yang terjangkit diketahui berhasil bertahan hidup—jauh di atas 3% harapan hidup, menurut penelitian baru yang diterbitkan dalam Communications Medicine.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa infeksi yang disebabkan oleh ameba pemakan otak mungkin tidak sesulit diobati seperti yang sebelumnya diperkirakan.

Diagnosis yang lebih dini, kesadaran yang lebih tinggi di kalangan tenaga medis, dan protokol pengobatan yang lebih konsisten kemungkinan semuanya berkontribusi terhadap hasil yang lebih baik, menurut tim peneliti internasional yang melakukan studi tersebut.

Cara tetap aman

Naegleria fowleri juga dapat masuk ke tubuh ketika seseorang menggunakan botol berleher panjang yang biasanya dipakai untuk meredakan gejala pilek, infeksi sinus, atau alergi.

Tahun lalu, seorang perempuan berusia 71 tahun yang sebelumnya sehat di Negara Bagian Texas, AS, meninggal dalam waktu dua minggu setelah menggunakan perangkat semacam itu. Dia mengisi botol menggunakan air keran.

Seorang perempuan memegang botol irigasi hidung di dalam hidungnya, sementara air mengalir keluar dari lubang hidung yang lain.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Sistem irigasi hidung dapat menjadi jalur mudah bagi Naegleria fowleri untuk mencapai otak.

Ada langkah-langkah sederhana yang bisa mengurangi risiko yang sebenarnya sudah sangat kecil tersebut.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) menyarankan penggunaan air steril, air suling, atau air yang telah direbus lalu didinginkan untuk membilas hidung.

Saat berenang di kolam air tawar yang hangat, lembaga tersebut merekomendasikan untuk mengurangi air masuk ke dalam hidung.

Menutup hidung atau menggunakan penjepit hidung saat menyelam atau melompat ke dalam air juga bisa dilakukan.

"Jika ragu, jangan masukkan kepala Anda ke dalam air," kata Wright.