Iran hancurkan 20 fasilitas militer AS sejak perang dimulai, menurut citra satelit

Gambar promosi memperlihatkan pesawat E-3 Sentry yang rusak dengan tulisan “US AIR FORCE” terpampang jelas. Ekor pesawat tersebut terputus dan pesawat itu dikelilingi puing-puing. Gambar tersebut ditimpa di atas citra satelit yang memperlihatkan hanggar pesawat yang hancur di sebuah pangkalan militer AS.
    • Penulis, Merlyn Thomas
    • Penulis, Alex Murray
    • Penulis, Matt Murphy
    • Peranan, BBC Verify
  • Telah diterbitkan
  • Waktu membaca: 6 menit

Iran telah merusak 20 fasilitas militer Amerika Serikat sejak awal perang, pada akhir Februari 2026. Temuan dari gambar satelit dan video yang dianalisis oleh BBC Verify, menunjukkan serangan tersebut lebih luas daripada yang diakui secara publik.

Sejak perang mulai berkecamuk, Iran telah menargetkan fasilitas-fasilitas utama AS di delapan negara di Timur Tengah. Fasilitas-fasilitas tersebut berada di Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), Qatar, Kuwait, Irak, Yordania, Bahrain, dan Oman.

Jumlah serangan sebenarnya mungkin lebih banyak. Beberapa analis memperkirakan pangkalan militer yang terkena gempuran bisa mencapai 28 titik.

Rangkaian serangan ini menyebabkan kerusakan senilai jutaan dolar pada sistem pertahanan udara canggih, pesawat pengisian bahan bakar, dan radar.

Sementara itu, pangkalan AS dan fasilitas militer bersama menjadi sasaran lain dari Iran pascaserangan AS-Israel di Iran dan Lebanon selama tiga bulan terakhir.

Pada Selasa (26/05), Mojtaba Khamenei yang kini duduk sebagai Pemimpin tertinggi Iran, mengklaim Timur Tengah tidak lagi menjadi "tempat yang aman" bagi pangkalan militer Amerika.

Peta Timur Tengah yang menunjukkan lokasi pangkalan udara AS yang diserang oleh Iran. Pangkalan-pangkalan udara tersebut berada di Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), Qatar, Kuwait, Irak, Yordania, Bahrain, dan Oman.

Adapun markas besar Departemen Pertahanan AS, Pentagon, mengklaim telah menyerang lebih dari 13.000 target di Iran sejak dimulainya Operasi Epic Fury.

Gedung Putih juga berulang kali menyebut militer Iran hampir sepenuhnya dilumpuhkan.

Akan tetapi, para analis menemukan kerusakan yang terlihat di fasilitas militer AS menunjukkan serangan balasan Iran lebih tepat dan luas daripada yang diakui oleh pejabat Amerika.

Terkait dengan temuan BBC Verify ini, pejabat pertahanan AS menolak berkomentar dengan alasan "keamanan operasional".

AS sebenarnya berupaya membatasi citra satelit beserta analisisnya di wilayah konflik tersebut. Planet, penyedia utama citra satelit, diminta melakukan pembatasan "tanpa batas waktu" terhadap gambar baru Iran dan sebagian besar Timur Tengah.

Planet membenarkan langkah tersebut dengan alasan AS tidak ingin citranya digunakan "oleh pihak lawan untuk menargetkan personel dan warga sipil sekutu serta mitra NATO".

Dalam hal ini, BBC Verify menggunakan citra satelit dari penyedia internasional lain yang dikombinasikan dengan gambar lama dari Planet untuk melacak kerusakan akibat serangan Iran.

Apa perangkat penting AS yang terdampak serangan?

Kerusakan pada markas militer itu turut menghancurkan perangkat penting.

Sejumlah perangkat penting yang terdampak, antara lain tiga sistem peluncur rudal anti-balistik canggih di pangkalan udara Al Ruwais dan Al Sader di UEA serta Pangkalan Udara Muwaffaq Salti di Yordania.

AS diketahui hanya mengoperasikan delapan sistem peluncur Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) yang ditempatkan di pangkalan di seluruh dunia. Masing-masing berbiaya produksi sekitar US$1 miliar atau setara Rp17,8 triliun.

Tiap peluncur membutuhkan sekitar 100 personel untuk mengoperasikannya, sementara tiap peluru yang ditembakkan berharga sekitar US$12,7 juta per unit atau setara Rp226,1 miliar.

Lewati Whatsapp dan lanjutkan membaca
Akun resmi kami di WhatsApp

Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.

Klik di sini

Akhir dari Whatsapp

Laksamana Madya Mark Mellett, mantan kepala staf Angkatan Bersenjata Irlandia, berkata pada BBC Verify bahwa sistem peluncur rudal tersebut merupakan inti dari jaringan pertahanan regional yang "sangat kompleks" dan tidak dapat "digantikan dengan cepat atau mudah".

Selain itu, serangan Iran juga menghantam secara signifikan pesawat pengisian bahan bakar dan pengintai milik AS di Pangkalan Udara Prince Sultan di Arab Saudi.

Dampak serangan dibuat berdasarkan analisis ahli pada citra satelit. Menurut mereka, pesawat yang rusak terlihat jelas.

Satu pesawat diidentifikasi oleh analis MAIAR sebagai pesawat pengintai E-3 Sentry. Media AS melaporkan bahwa biaya penggantiannya bisa mencapai US$700 juta.

Di tempat lain, serangan Iran juga menargetkan Pangkalan Udara Ali Al Salem dan Camp Arifjan di Kuwait.

Analis di MAIAR mengidentifikasi bunker penyimpanan bahan bakar, hanggar pesawat, dan akomodasi pasukan hancur setelah diserang beberapa kali selama konflik.

Di Camp Arifjan, perusahaan intelijen pertahanan Janes mengidentifikasi kerusakan luas pada perangkat komunikasi satelit.

Sebuah citra satelit yang memperlihatkan kerusakan di Pangkalan Udara Ali Al Salem di Kuwait. Di sebelah kiri terlihat tangki bahan bakar yang hancur, sedangkan di sebelah kanan terlihat hanggar-hanggar yang rusak.

Sejauh mana kerusakan pada fasilitas AS pada dasarnya masih sulit diukur. Namun, Pentagon dalam laporannya pada bulan Mei mengalokasikan total biaya Operasi Epic Fury sebesar US$29 miliar.

Dari besaran anggaran itu, sebagian besar kemungkinan dihabiskan untuk "biaya perbaikan atau penggantian peralatan" yang hancur dalam konflik.

Politisi Partai Demokrat berkata, angka tersebut merupakan perkiraan yang terlalu rendah.

Dalam laporan tersebut, juga ditemukan setidaknya 42 pesawat—termasuk pesawat jet tempur F-15 dan F-35, 24 drone MQ-9 Reaper, dan sebuah pesawat serang A-10—telah hancur atau rusak sejak Februari.

Lalu, bagaimana dengan Iran?

Para ahli yang berbicara pada BBC Verify membeberkan taktik Iran telah berkembang selama perang.

Iran dinilai tak lagi mengandalkan rentetan rudal besar-besaran yang menargetkan kota dan pangkalan di seluruh wilayah, tapi mengandalkan serangan yang lebih tepat dan terarah.

"Serangan awal [Iran] dirancang mengandalkan gelombang massal yang bertujuan untuk melumpuhkan sistem pertahanan udara dan rudal melalui jumlah yang sangat besar," kata Dr Kelly Grieco, analis dari lembaga pemikir Stimson Center yang berbasis di AS.

"Namun, dalam beberapa hari, Iran beralih ke rentetan yang lebih kecil dan lebih tepat sasaran. Mereka menghemat rudal dan drone yang tersisa untuk target bernilai tinggi serta memusatkan serangan di lokasi-lokasi yang bahkan serangan nyaris meleset pun bisa menimbulkan kerusakan parah."

Sementara itu, analis di MAIAR berkata pada BBC Verify bahwa militer AS "tampaknya merasa bersalah atas kelengahan pada tahap awal perang" karena gagal mengalihkan pesawat agar lepas dari jangkauan drone dan rudal Iran seiring berkembangnya taktik Iran.

Dalam kasus pangkalan udara Prince Sultan, fasilitas tersebut sebelumnya telah diserang sebelum pesawat dihancurkan.

Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, bersumpah "bangsa-bangsa dan wilayah di kawasan ini tidak akan lagi menjadi tameng bagi pangkalan Amerika."

Ia juga menambahkan: "AS tidak akan lagi memiliki tempat aman di kawasan ini, bahkan untuk mendirikan pangkalan militer. Dan dari hari ke hari akan semakin menjauh dari posisinya sebelumnya."

Pernyataan Khamenei ini muncul hanya beberapa hari sebelum gencatan senjata antara AS dan Iran kembali mengalami ketegangan.

Pada Kamis (28/05), Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan telah menyerang sebuah pangkalan AS di kawasan tersebut, menyusul serangan baru AS di wilayah selatan Iran.

Dr. Grieco memperingatkan jika gencatan senjata yang rapuh antara AS dan Iran runtuh dan pertempuran kembali berkobar, kerusakan yang telah terjadi pada pangkalan-pangkalan AS menunjukkan bahwa fasilitas-fasilitas di seluruh wilayah Teluk dapat menjadi rentan.

"Konflik saat ini telah menghabiskan stok pertahanan udara AS dan sekutunya dalam jumlah besar," katanya.

"Tidak ada cara cepat untuk mengisi kembali persediaan tersebut, artinya serangan baru dari Iran akan dihadapi dengan hanya sebagian kecil dari jumlah pertahanan yang tersedia saat konflik dimulai."

Laporan tambahan dari Barbara Metzler dan Tom Gould.

The BBC Verify banner.