Pembunuhan atau kecelakaan? Misteri kematian miliuner pencipta merek Mango

Sumber gambar, Europa Press via Getty Images
- Penulis, Guy Hedgecoe
- Peranan, di Madrid
- Telah diterbitkan
- Waktu membaca: 5 menit
Ketika Jonathan Andic, putra mendiang pendiri salah satu merek pakaian terbesar di Eropa, membayar uang jaminan sebesar €1 juta (Rp20,6 miliar) tak lama setelah ditangkap terkait kematian ayahnya, publik Spanyol bertanya-tanya.
Kisah ini berawal saat Isak Andic, yang menciptakan merek pakaian Mango, meninggal dunia pada usia 71 tahun, 14 Desember 2024.
Dia tutup usia setelah terjatuh sekitar 150 meter dari sebuah tebing di taman alam pegunungan Montserrat di utara Barcelona. Kala itu, Isak dan putranya, Jonathan, sedang mendaki bersama di sana.
Awalnya, polisi memperlakukan kasus ini sebagai kecelakaan tragis yang menimpa salah satu individu terkaya di Spanyol.
Namun pekan ini, Jonathan ditangkap setelah seorang hakim di Martorell dekat Barcelona memutuskan ada "cukup bukti untuk menganggap kematian [Isak Andic] bukan kecelakaan, dengan partisipasi aktif dan terencana dari [Jonathan Andic] dalam kematian ayahnya".
Jonathan berkeras dirinya tidak bersalah.
Bagaimana kronologi kasus ini?
Jonathan Andic, anak sulung pendiri Mango, menelepon layanan darurat untuk mengevakuasi jenazah ayahnya.
Pria berusia 45 tahun itu mengatakan kepada polisi bahwa dirinya berjalan lebih dulu dari ayahnya. Tiba-tiba, menurut Jonathan, dirinya mendengar suara batu bergeser. Jonathan mengaku membalikkan badan dan melihat ayahnya telah jatuh.
Beberapa minggu kemudian, penyelidik memintai keterangan Jonathan untuk kedua kalinya. Kali ini selama tiga jam.
Selang beberapa bulan kemudian, pada Oktober 2025, Jonathan secara resmi menjadi tersangka setelah kasus tersebut dibuka kembali.
Tak lama setelah itu, para pelaksana wasiat Isak Andic menerbitkan pernyataan yang menegaskan ketidakbersalahan Jonathan, dengan menyatakan "kami telah menjadi saksi bagaimana duka pribadi diperparah oleh perdebatan publik yang menyebabkan penderitaan yang lebih besar".
Seiring penyelidikan berlanjut, polisi juga memeriksa dua adik perempuan Jonathan dan pamannya.
Apa kecurigaan penyelidik?
Penangkapan Jonathan Andic pekan ini tampaknya didasarkan pada sejumlah dugaan terkait kematian ayahnya dan pendakian tersebut.
Penyelidik meyakini bahwa jenis terpeleset seperti yang digambarkan Jonathan dialami ayahnya kecil kemungkinan terjadi di lokasi jatuh tersebut.
Kedua pria itu berada dekat beberapa gua di area Collbató, mengikuti rute yang relatif tidak berat dan umum ditempuh oleh keluarga dan anak sekolah.
Mereka mencurigai bahwa jejak kaki di lokasi yang disebut Jonathan sebagai tempat ayahnya jatuh tidak sesuai dengan posisi ketika seseorang terpeleset dan jatuh.
Selain itu, mereka menilai posisi tubuh Isak Andic dan cedera yang dialaminya tidak konsisten dengan jatuh akibat kecelakaan.
Laporan forensik menemukan bahwa tampaknya "seolah-olah ia meluncur ke bawah seperti melalui perosotan, dengan kaki terlebih dahulu".

Sumber gambar, Foc Kan/WireImage
Penyelidik mendeteksi kontradiksi dalam kesaksian Jonathan mengenai posisinya ketika ayahnya jatuh.
Dalam salah satu keterangan, Jonathan mengaku berada di depan ayahnya, tetapi dalam keterangan lain dia mengaku posisi keduanya lebih berdekatan.
Selain itu, awalnya Jonathan mengaku kepada polisi bahwa ayahnya sedang mengambil foto dengan ponsel sesaat sebelum jatuh.
Namun ponsel tersebut ditemukan di saku Isak Andic ketika jenazahnya ditemukan.
Tiga kunjungan Jonathan ke lokasi ayahnya jatuh, pada 7, 8, dan 10 Desember, juga menimbulkan kecurigaan dan hakim penyidik. Mereka menyatakan hal itu menunjukkan "perencanaan dan studi lokasi".
Selain itu, ponsel Jonathan sendiri hilang pada waktu yang hampir bersamaan dengan pemberitaan media mengenai dibukanya kembali penyelidikan.
Jonathan mengatakan kepada polisi bahwa perangkat tersebut dicuri saat perjalanan singkat ke Ekuador.
Apa ada kaitan dengan motif ekonomi?
Para penyelidik juga telah menelaah konteks yang lebih luas seputar kematian Isak Andic. Mereka mengidentifikasi kemungkinan motif dalam hubungan antara Isak dengan Jonathan, khususnya dalam konteks bisnis Mango.
Isak lahir di Istanbul, pindah bersama keluarganya ke Catalan saat remaja, dan mendirikan merek Mango pada pertengahan 1980-an.
Kini, merek pakaian tersebut telah berkembang pesat dengan mempekerjakan lebih dari 16.000 orang. Pendapatan Mango mencapai €3,3 miliar (Rp67,5 triliun) pada 2024. Hal itu menjadikan Isak Andic sebagai orang terkaya di Catalan.
Jonathan Andic telah terlibat erat dalam pengembangan Mango selama dua dekade terakhir, khususnya di bidang pakaian pria. Namun, ia telah menjauh dari peran tersebut sejak kematian ayahnya.
Jonathan dan dua adik perempuannya saat ini berbagi kendali atas perusahaan holding yang memiliki 95% saham Mango.
Bagaimana relasi antara Jonathan dan Isak Andic?
Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.
Klik di sini
Akhir dari Whatsapp
Jonathan Andic menikah dengan seorang influencer bernama Paula Nata. Anak pertama mereka lahir pada bulan September.
Penyelidik meyakini bahwa rencana Isak untuk membentuk yayasan amal menciptakan ketegangan dengan Jonathan. Percakapan antara mereka melalui pesan teks memperlihatkan ketegangan tersebut.
Menurut penyidik, Jonathan melakukan "manipulasi emosional terhadap ayahnya untuk mencapai tujuan ekonominya" dan ia telah "mengungkapkan perasaan kebencian, dendam, gagasan terkait kematian, dan tuduhan" yang ditujukan kepada Isak.
Namun Jonathan mengatakan kepada penyelidik bahwa hubungannya dengan ayahnya baik.
Tak lama setelah penangkapan Jonathan, keluarga Andic mengeluarkan pernyataan dukungan untuk Jonathan, dengan mengatakan "tidak ada, dan tidak akan ada, bukti sah terhadapnya".
"Teori pembunuhan tidak dapat dipertahankan," kata pengacaranya, Cristóbal Martell.
"Namun yang terpenting, hal itu menyakitkan. Ini memberi stigma pada seorang pria yang tidak bersalah."
































