Gunung Dukono di Halmahera Utara meletus, 17 orang berhasil dievakuasi

Sumber gambar, BASARNAS
- Penulis, Jerome Wirawan
- Peranan, Jurnalis BBC News Indonesia
- Penulis, Yuli Saputra
- Peranan, Wartawan di Bandung
- Penulis, Farida Susanty
- Peranan, Jurnalis BBC News Indonesia
- Waktu membaca: 7 menit
Pascaletusan Gunung Dukono di Halmahera Utara, Maluku Utara, pada Jumat (08/05), Kantor SAR Ternate menyatakan telah mengevakuasi 17 korban pendaki hingga pukul 18.00 WIT. Sementara itu, tiga orang yang disebut telah meninggal—dua di antaranya warga Singapura dan satu WNI—masih berada di atas gunung.
Kepala Kantor SAR Ternate, Iwan Ramdani, menyebut bahwa ketiga orang tersebut—yang berinisial HWQT, SM, dan E—belum bisa dievakuasi karena Gunung Dukono "terus mengeluarkan erupsi".
Dia juga menyampaikan, korban selamat asal Indonesia kini sudah keluar rumah sakit. Sebagian ditempatkan di Hotel Bianda dan sebagian lagi tengah diperiksa Polres Halmahera Utara.
Akan tetapi, Iwan belum bisa merinci jumlah yang diperiksa oleh aparat.
Secara terpisah, Kapolres AKBP Halmahera Utara, AKBP Erlichson Pasaribu, mengungkapkan pihaknya akan memeriksa orang-orang yang mendampingi para pendaki ini ke atas Gunung Dukono.
Sebab, Gunung Dukono sebenarnya tidak boleh didaki untuk sementara.
Seperti apa status Gunung Dukono saat ini?
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana (PVMBG), Badan Geologi, belum menaikkan status Gunung Dukono, per Jumat (08/05).
Gunung yang berlokasi di Maluku ini berstatus level II atau waspada, yang disematkan sejak 2008. Untuk meningkatkan statusnya ke level III atau Siaga, PVMBG harus mempertimbangkan beberapa indikator.
"Salah satunya untuk level 3 atau Siaga ini adalah ketika gunung api sudah mulai mengancam ke arah penduduk. Karena untuk Gunung Dukono ini jarak dari pemukiman 8 kilometer sehingga untuk level ke Siaga ini masih belum ada potensi ke sana sehingga masih jauh. Yang sesuai dengan 4 kilometer di level 2 atau Waspada," kata Ketua Tim Kerja Gunung Api, Heruningtyas Desi Purnamasari, kepada wartawan di Kantor PVMBG Badan Geologi, Kota Bandung, Jumat

Sumber gambar, Basarnas
.
Lebih jauh, Tyas menjelaskan, indikasi menaikkan status dilihat dari seberapa besar ancaman terhadap warga setempat, seperti kegempaan dan deformasi meningkat secara signifikan.
Siti menjelaskan, sebaran abu condong ke arah Utara sehingga perlu diwaspadai wilayah pemukiman dan Kota Tobelo.
"Ini akan kemungkinan beresiko terdampak hujan abu vulkanik. Ini kan kalau hujan abu vulkanik artinya berpengaruh terhadap kesehatan masyarakat ya apabila terhirup," paparnya.
Dilansir situs PVMBG, Gunung Dukono erupsi pukul 07.41 WIT pada Jumat (08/05). Tinggi kolom letusan teramati ± 10.000 meter.
Kolom abu teramati kelabu hingga hitam. Saat laporan dibuat, Gunung Dukono masih meletus.
"Kolom abu teramati berwarna putih, kelabu hingga hitam dengan intensitas tebal ke arah utara. Saat laporan ini dibuat, erupsi masih berlangsung," tulisnya.

Sumber gambar, Reuters.
Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.
Klik di sini
Akhir dari Whatsapp
Siti menambahkan, Gunung Dukono termasuk gunung api yang teraktif di Indonesia. Pada 1933, Gunung Dukoni erupsi dengan kolom erupsi sampai 15 kilometer.
"Sampai 30 Maret 2026 ini sudah ada 199 kali erupsi dengan ketinggian kolomnya 50 sampai 400 meter dari puncak," sebut Siti.
Sejak tahun 2008 level gunung ini sudah waspada dengan radius tiga kilometer. Pada 2024, PVMBG menaikkan radius area yang tidak boleh mendekat dari tiga kilometer menjadi empat kilometer.
"Rekomendasinya itu jadi harus waspada dalam radius empat kilo itu. Jadi kalau misalnya akan beraktifitas, mohon diperhatikan wilayah sekitar gunung yang kita sampaikan empat kilometer itu. Jangan mendekat ke arah sana karena gunung ini dalam kondisi aktif bisa kapan saja terjadi erupsi," ujar Siti.
Kementerian Pariwisata dilaporkan telah mengeluarkan surat penutupan kawasan pendakian Gunung Dukono guna mengantisipasi risiko terhadap keselamatan wisatawan dan masyarakat di sekitar kawasan gunung.
Surat tersebut dikeluarkan untuk mengantisipasi risiko terhadap keselamatan wisatawan dan masyarakat di sekitar kawasan gunung.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, mengungkapkan, dari hasil diskusi sementara antarinstansi, terdapat dugaan adanya kelalaian dari pegiat wisata atau pihak yang tetap melakukan aktivitas pendakian meskipun telah terdapat pemberitahuan penutupan kawasan wisata pendakian Gunung Dukono.
Baca juga:
Secara terpisah, Kapolres AKBP Halmahera Utara, AKBP Erlichson Pasaribu, mengungkapkan pihaknya akan memeriksa orang-orang yang mendampingi para pendaki ini ke atas Gunung Dukono.
"Untuk sanksi, kami akan lakukan pemeriksaan terlebih pada orang-orang yang mendampingi mereka sehingga bisa mendaki sampai atas," ujar Erlichson.
Dia juga menambahkan imbauan untuk tidak mendaki gunung tersebut sudah dipasang di depan pintu pendakian.
"Ada spanduk larangan mendaki di pintu pendakian karena status waspada, tapi tidak diikuti karena ingin mencari konten," katanya.
'Seperti aliran air di sungai'
Aleksius Djangu, 48 tahun, pemandu gunung yang saat erupsi pagi berada di Gunung Dukono, menjelaskan bahwa kecelakaan yang terjadi saat erupsi Gunung Dukono berkaitan dengan penggunaan jalur yang berisiko tinggi.
Alex mengatakan, karena Gunung Dukono bukan berstatus taman nasional, tidak ada sistem buka-tutup resmi maupun pos masuk dan keluar. Yang tersedia hanya surat peringatan dari dinas pariwisata.
"Dalam surat peringatan itu ada tertulis rekomendasi untuk pengunjung 4 kilometer dari kawah," kata Alex.

Sumber gambar, Kementerian ESDM
Sebagai pemandu ekowisata, yang telah mendampingi wisatawan di Gunung Ibu dan Gunung Dukono sejak 1996, ia mengaku selalu melakukan observasi beberapa hari sebelum pendakian, termasuk memantau data di kantor vulkanologi, durasi erupsi, kedalaman kawah, serta arah angin. Berdasarkan pengamatannya, jalur utara dari Desa Mamuya sudah lama ia hindari.
"Karena jalur utara dari Desa Mamuya itu bukaan kawahnya mengarah ke situ. Semua material mengarah ke situ," ujarnya. Ia menambahkan bahwa ia selalu memilih jalur timur melalui Desa Ruko yang dinilainya lebih aman. "Makanya yang mengalami kecelakaan itu yang melalui jalur utara itu."
Dalam perjalanan terakhirnya bersama dua wisatawan asal Jerman, Alex dan rombongannya memutuskan berkemah di radius empat kilometer dari kawah, sesuai rekomendasi keselamatan. Ia secara tegas melarang tamunya mendekat ke kawah.
"Bilang ke tamu tidak bisa dekat karena kalau ada apa-apa tengah malam kita lagi tidur terus terjadi erupsi. Kita kena material, itu juga beracun," katanya.
Selama berkemah, Alex mengamati perubahan perilaku gunung. Ia menyebut erupsi Dukono biasanya bersifat kontinu, namun kali ini justru tampak lebih senyap.
"Dukono itu erupsinya tidak pernah putus-putus. Tapi kali ini agak senyap. Justru itu yang berbahaya. Karena dia lagi kumpul tekanan di dalam leher gunung api itu."
Ia juga mendengar suara tidak biasa yang awalnya dikira aliran air. "Seperti aliran air di sungai. Begitu saya ke sungai tidak ada air. Ternyata suara itu dari kawah," katanya, menduga adanya tekanan magma dari bawah yang membuat kawah semakin dangkal.

Pada pagi hari, setelah mendengar dua kali letupan kecil, Alex memperingatkan rombongannya. "Saya bilang kita hati-hati. Ini erupsi pasti kencang." Tak lama kemudian, erupsi besar terjadi.
"Dan betul. Pada jam 7.42 pagi ini terjadi erupsi kencang," ujarnya.
Saat erupsi terjadi, kelompok Alex berada di radius aman. Kelompok yang dipandu Alex tidak termasuk dalam rombongan korban. "Kami grup beda. Mereka dari jalur yang tidak aman. Kami dari jalur yang aman."
Alex juga menyoroti fenomena pendaki yang terlalu fokus membuat konten. Ia mengaku melihat langsung rombongan lain yang sibuk merekam aktivitas tanpa memperhatikan tanda-tanda aktivitas gunung.
"Mereka sibuknya ngonten. Tanpa memperhatikan tanda-tanda kegunung apian," ujarnya.
Ia menduga beberapa korban berasal dari kelompok tersebut. Menurutnya, ketertarikan terhadap Dukono meningkat seiring popularitas konten erupsi di media sosial.
"Yang mereka cari erupsinya itu," kata Alex. Ia menyebut tren ini mulai terasa sekitar 2015, seiring munculnya komunitas pendaki dan maraknya konten viral.
Menurutnya, keindahan erupsi Dukono tetap bisa dinikmati dari jarak aman. "Karena ketika erupsinya kencang, lava pijarnya kelihatan. Dan untuk fotografi malam hari itu sangat jelas. Jadi tidak perlu mendekat."
Sementara itu, Aldy, warga lokal, bergabung dalam tim penyelamat. Aldy dan timnya sedang berasda di shelter terakhir ketika dihubungi BBC News Indonesia, sekitar dua kilometer dari puncak gunung.
"Kondisi di shelter terakhir aman, kami sedang melakukan diskusi untuk proses penyelamatan," ujarnya melalui sambungan telepon yang terputus-putus karena sinyal buruk.
Menurut Aldy, tim telah mengetahui posisi dua korban meninggal di area puncak, namun masih belum bisa melakukan evakuasi. Satu korban lagi, menurut dia, lokasi tepatnya belum ditemukan.
"Dari BPBD belum mengizinkan kami menyebutkan status meninggal, karena evakuasi belum dilakukan," katanya.
Di sisi lain, Gunung Dukono masih mengeluarkan abu vulkanik dan material batu dari kawah.
Aldy mengatakan kondisi ini membuat situasi di puncak menjadi sangat berbahaya bagi pendaki.
"Yang terlihat dari shelter, abu dan material batu terus keluar," ujarnya.
Sebelumnya, Aldy mengatakan pihak terkait telah mengeluarkan larangan pendakian sejak kurang lebih dua minggu terakhir. Larangan tersebut disosialisasikan melalui media hingga poster di jalur masuk.
Namun, para pendaki diduga tetap leluasa memasuki jalur pendakian, karena Gunung Dukono tidak punya pos pendaftaran resmi. Aldy menyangka para pendaki ini bertujuan melihat kawah Dukono.
Meski aktivitas gunung meningkat, menurut Aldy, warga di sekitar permukiman dilaporkan dalam kondisi aman karena jarak kampung yang relatif jauh dari kawah.
Viral tak berarti aman
Secara terpisah, Daryono dari Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI) mengingatkan agar publik memahami risiko dalam konteks kebencanaan. Selama ini, masyarakat sering melihat video pendaki atau pemengaruh yang berhasil naik lalu pulang dengan selamat.
"Konten seperti itu perlahan membentuk distorsi persepsi risiko. Orang menjadi merasa aman bukan karena kondisi gunung benar-benar aman, tetapi karena melihat orang lain tampak baik-baik saja di dalam video," kata Daryono.
Padahal dalam ilmu kebencanaan, keselamatan sebagian orang tidak pernah dapat dijadikan dasar untuk menilai tingkat bahaya.
Fenomena ini, lanjut dia, dikenal sebagai survivorship bias. "Publik hanya melihat mereka yang berhasil turun dan mengunggah konten dramatis, sementara potensi ancaman yang tidak terjadi saat itu menjadi tidak terlihat."
Bahaya sebenarnya tetap ada dan bisa muncul sewaktu-waktu dalam bentuk lontaran material pijar, hujan abu pekat, gas vulkanik, maupun erupsi eksplosif mendadak. Apalagi jika sudah imbauan untuk tidak mendaki terlebih dahulu.
"Inilah wajah infodemik dalam mitigasi bencana, ketika informasi viral konten media sosial dijadikan acuan keselamatan daripada informasi resmi yang dapat dipertanggungjawabkan dari otoritas kebencanaan dan rekomendasi ilmiah," tambahnya.
































