AS dakwa mantan pemimpin Kuba, Raul Castro – Tiga hal yang bisa terjadi

    • Penulis, Bernd Debusmann Jr
    • Peranan, Reporter BBC di Gedung Putih
  • Telah diterbitkan
  • Waktu membaca: 5 menit

Amerika Serikat telah mendakwa mantan presiden Kuba berusia 94 tahun, Raúl Castro, dengan tuduhan pembunuhan. Hal ini memicu spekulasi bahwa Havana bisa menjadi target perubahan rezim oleh Washington DC.

Di tengah berbagai tekanan yang menyebabkan krisis bahan bakar dan energi paling signifikan di Kuba, sejumlah pejabat AS secara konsisten menyerukan agar pemerintahan komunis di pulau itu—yang telah berlangsung selama 66 tahun—segera diakhiri.

Pada satu sisi, Presiden Donald Trump mengatakan dirinya meyakini bahwa "eskalasi" tidak diperlukan. Namun, di sisi lain, Gedung Putih berikrar tidak akan menoleransi sebuah "negara pelanggar" yang hanya berjarak 144 km dari pantai AS.

Apa yang terjadi selanjutnya sulit diprediksi: keruntuhan ekonomi, gejolak domestik, atau intervensi militer AS.

Berikut tiga kemungkinan yang dapat terjadi.

AS dapat menangkap Raul Castro

Dakwaan terhadap Raul Castro terkait penembakan jatuh dua pesawat sipil pada 1996 oleh pesawat jet tempur Kuba segera memicu spekulasi bahwa pasukan AS dapat meluncurkan operasi untuk menangkapnya dan membawanya ke pengadilan Amerika.

Operasi semacam itu bukan tanpa preseden.

Pada Januari, pasukan komando AS meluncurkan operasi kilat di Venezuela untuk menangkap Presiden Nicolás Maduro—sekutu lama Kuba—dan membawanya ke New York guna menghadapi dakwaan narkoba dan senjata.

Pada 1989, Operation Just Cause yang melibatkan ribuan pasukan AS, menyerbu Panama untuk menggulingkan dan menahan pemimpin negara saat itu, Manuel Noriega.

Baca juga:

Sejauh ini, Presiden Trump menepis pertanyaan soal pelaksanaan operasi serupa di Kuba. Namun, beberapa anggota parlemen AS secara terbuka menyerukan misi serupa untuk dilaksanakan.

"Kita tidak boleh mengesampingkan opsi apa pun," kata Senator Florida, Rick Scott kepada wartawan.

"[Hal] yang sama yang terjadi pada Maduro seharusnya terjadi pada Raul Castro," imbuhnya.

Para ahli mengatakan bahwa dari sudut pandang militer, menangkap Castro memungkinkan—namun penuh risiko dan kerumitan, termasuk usianya yang lanjut serta potensi perlawanan.

"Dalam beberapa hal mungkin lebih mudah mengekstraksinya," kata Adam Isacson, pakar regional dari Washington Office on Latin America, sebuah LSM.

"Dia punya nilai simbolis. Artinya, ia dijaga sangat ketat. Tetapi itu tentu memungkinkan," sambungnya.

Namun, menyingkirkan Castro—yang mengundurkan diri sebagai presiden pada 2018—mungkin tidak berdampak signifikan terhadap pemerintahan Kuba secara keseluruhan, walau selama bertahun-tahun dia dipandang sebagai figur simbolis yang berpengaruh.

"Saya berpikir [penangkapan] itu tidak akan banyak memengaruhi struktur kekuasaan di Kuba lagi. Dia berusia 94 tahun," kata Isacson. "Dinasti keluarga Castro berpengaruh, tetapi tidak lagi menjadi pusat dari apa yang mereka bangun."

"Untuk alasan politik domestik, itu mungkin akan menjadi pukulan," tambahnya.

"Mereka akan senang mempermalukan keluarga Castro dan memenjarakan salah satu revolusioner asli dari tahun 1959. Tetapi nilai strategisnya dipertanyakan."

AS dapat mendorong perubahan rezim di Kuba

Salah satu kemungkinan yang diutarakan para pejabat AS—termasuk Trump—adalah kepemimpinan baru mengambil alih kekuasaan di Havana.

Para pakar mencatat bahwa pendekatan ini mirip dengan penggantian Maduro oleh Delcy Rodriguez di Venezuela. Pemerintah Venezuela tetap utuh, tapi berhubungan langsung dengan pemerintahan Trump.

Baca juga:

Trump berulang kali mengatakan bahwa ia sudah berhubungan dengan tokoh-tokoh di dalam Kuba yang mengharapkan bantuan AS di tengah memburuknya kondisi ekonomi.

"Kuba meminta bantuan, dan kita akan berbicara," tulisnya di Truth Social pada 12 Mei.

Beberapa hari setelah Trump menulis di Truth Social, Direktur CIA, John Ratcliffe, bertemu dengan pejabat Kuba, termasuk cucu Castro, Raúl Guillermo Rodríguez Castro, dan Menteri Dalam Negeri, Lázaro Álvarez Casas.

"Kami akan berinteraksi dengan Kuba... pada akhirnya mereka harus membuat keputusan. Sistem mereka tidak berjalan," kata Menteri Luar Negeri, Marco Rubio, kepada wartawan di Florida pada Kamis (21/05).

Perubahan yang diinginkan AS dapat mencakup membuka ekonomi, mengundang lebih banyak investasi asing dan keterlibatan kelompok pengasingan Kuba, serta komitmen mengakhiri kehadiran badan intelijen Rusia atau China di pulau tersebut.

Yang penting, perubahan ini dapat membuat pemerintahan Kuba secara umum tetap utuh.

"Sama seperti mereka ingin menghindari ketidakstabilan di Venezuela, mereka juga ingin menghindari ketidakstabilan di Kuba," kata Michael Shifter, profesor kajian Amerika Latin di Georgetown University dan mantan kepala Inter-American Dialogue, sebuah lembaga kajian berbasis di Washington.

"Memaksakan perubahan rezim akan terlalu berisiko," tambahnya.

Beberapa pakar yang dihubungi BBC mengatakan bahwa tantangan bagi pemerintahan Trump adalah tidak adanya figur yang siap mengambil alih di dalam Kuba.

"Saya tidak berpikir ada sosok seperti Delcy Rodriguez di Kuba, dan kekuasaan bekerja secara berbeda di Kuba dibandingkan Venezuela," kata Shifter.

"Sulit menemukan apa yang mereka cari, tetapi saya pikir mereka mencari semacam struktur pemerintahan."

Kuba dapat runtuh

Kemungkinan ketiga adalah Kuba runtuh di bawah tekanan ekonomi, yang menyebabkan pemadaman listrik berjam-jam setiap hari dan kekurangan pangan.

"Tidak akan ada eskalasi. Saya tidak berpikir itu diperlukan," kata Trump pekan ini.

"Tempat itu sedang runtuh. Ini bencana, dan mereka telah kehilangan kendali sampai batas tertentu."

Namun, para ahli menyebut situasi di Kuba jauh lebih kompleks karena mekanisme kendali pemerintah Kuba terhadap penduduknya sebagian besar tetap utuh, bahkan dalam periode ekonomi yang sulit.

"Anda harus membedakan antara ekonomi Kuba dengan negara serta pemerintah Kuba," kata Shifter.

"Ekonomi Kuba dapat runtuh, dan memang sedang runtuh... tetapi negara masih berfungsi, terutama di sisi keamanan," imbuhnya.

Keruntuhan Kuba juga dapat menimbulkan tantangan bagi pemerintahan Trump jika sejumlah besar warga Kuba melarikan diri dari negara tersebut, terutama menuju AS.

Apalagi, kedatangan imigran Kuba baru-baru ini menghadapi keterbatasan akses terhadap suaka politik dan pembatasan imigrasi selama pemerintahan Trump.

"Jika terjadi keruntuhan, sebagian besar populasi Kuba melakukan segala cara untuk pergi, seperti yang telah dilakukan dari Haiti selama bertahun-tahun," kata Isacson.

"Florida adalah tempat terdekat, tetapi saya juga memperkirakan sebagian orang akan menuju Meksiko," sambungnya.

Isacson menambahkan bahwa ia "terkejut" gelombang besar seperti itu belum terjadi.

"Orang-orang mungkin bertahan hidup dengan 1.000 atau 1.500 kalori per hari, dan tidak dapat memperoleh layanan kesehatan dasar," katanya.

"Kami mengira orang-orang sudah mulai membangun perahu."