Warga Iran lelah dengan ekonomi memburuk dan bayang-bayang perang – 'Orang harus bayar tiga kali lipat demi sepotong roti'

    • Penulis, Lyse Doucet
    • Peranan, Wartawan BBC melaporkan dari Teheran, Iran
  • Waktu membaca: 9 menit

Pada musim semi nan cerah, deretan toko di Jalan Sanaei Ghaznavi, Teheran, buka seperti biasa. Toko bahan makanan, perlengkapan rumah tangga, makanan cepat saji, hingga lapak penjual bunga, tampak masih dikunjungi calon pembeli.

Di negara tersebut, pemandangan itu memberikan potret masyarakat yang sudah lama diterpa berbagai krisis dan berusaha bertahan hari demi hari.

Bagi Mohammad, yang mengenakan kaus dan celana jins, membuka tenda di depan toko sepatu keluarganya adalah sebuah bentuk harapan.

"Saya senang berada di sini," katanya ketika kami masuk ke toko mungilnya yang dipenuhi rak sepatu olahraga dari lantai hingga langit-langit.

"Begitu banyak orang kehilangan pekerjaan dan tidak bekerja," sambungnya.

Namun, pelanggan sangat sedikit.

"Dulu kami punya banyak sekali pelanggan," keluh ayahnya Mohammad, Mustafa, dengan nada muram.

Dia menjelaskan dengan bangga bahwa usaha ini telah menjadi warisan keluarga mereka selama selama 40 tahun.

Sebuah situs Iran, Asr-e Iran, baru-baru ini mengutip perkiraan tidak resmi bahwa setidaknya empat juta pekerjaan mungkin telah hilang atau terdampak akibat perang dan pemutusan total akses internet oleh pemerintah.

Kotak-kotak berlabel merek Barat seperti New Balance dan Clarks tampak menonjol dari rak toko yang penuh.

"Buatan China," kata ayah dan anak itu dengan santai. "Bahkan barang tiruan pun mahal di Iran," tambah Mohammad.

Saya sempat mengira mereka berharap gencatan senjata yang rapuh ini bisa bertahan dan negosiasi dengan Amerika Serikat berhasil, agar mereka bisa mengimpor barang asli untuk mengikuti tren sepatu terbaru.

Namun, Mohammad justru berkata, "Kami berharap perang terjadi lagi," sambil tersenyum tipis.

Ayahnya menatap anaknya yang berusia 27 tahun itu dengan penuh arti. "Lihat rambut saya yang sudah beruban, saya lebih mengerti daripada dia."

"Kami hanya lelah hidup dengan kondisi ekonomi yang terus memburuk," kata Mustafa. "Beberapa orang percaya bahwa jika perang terjadi lagi, keadaan pada akhirnya akan membaik secara drastis."

Di luar toko kecil di sudut jalan, seorang perempuan lanjut usia bernama Shahla, yang mengenakan kerudung pucat, membawa sepotong roti sambil menjepit daftar belanja dan tumpukan uang.

Ia berhenti saat melihat kami lewat dan menyampaikan pendapatnya.

"Sekarang orang harus membayar tiga kali lipat untuk satu roti," keluhnya, sambil memegang irisan roti putih lembut dalam plastik.

"Orang-orang sekarang seperti hidup dalam penderitaan hanya untuk bisa membeli roti."

Shahla memandang ke seberang jalan yang rindang di pusat kota Teheran, yang berada di antara wilayah utara yang makmur dengan toko-toko mewah dan kafe bergaya, serta wilayah selatan yang lebih miskin dan konservatif.

"Orang yang berkecukupan ya tidak masalah, tapi tidak bagi para pekerja yang penghasilannya kecil," jelas Shahla.

Saya bertanya apa pesannya untuk para perunding.

"Hentikan saja, sudah cukup," katanya tegas. "Saya tidak yakin ini akan membawa hal baik bagi kami, karena Trump hanya mengancam orang-orang."

Saat ia bergegas melanjutkan belanja, seorang pria muda lewat sambil membawa botol kaca kecil berisi olesan berwarna hijau.

"Ini mentega valak," katanya, menggunakan istilah Persia untuk bawang liar yang tumbuh di kaki Pegunungan Alborz yang bersalju di utara. "Saya membuatnya sendiri."

"Kami hanya berusaha menjalani hidup, membuat sesuatu yang bisa dinikmati," jelas pria berusia 45 tahun yang bekerja sebagai arsitek dan pengajar itu dengan tenang.

Dia tidak ingin terlibat dalam politik yang "sangat rumit" di Iran dan kawasan sekitarnya, atau memprediksi apa yang akan terjadi selanjutnya.

Namun, ia mengungkapkan rasa frustrasinya karena, ia bahkan tidak bisa mengakses situs web untuk menerjemahkan kata saat membaca buku, akibat pemadaman internet yang sudah berlangsung lebih dari 50 hari.

Bahkan Menteri Komunikasi Iran, Sattar Hashemi, baru-baru ini meminta agar pembatasan tersebut dicabut, dengan menekankan bahwa sekitar 10 juta orang—terutama dari kelompok berpenghasilan menengah ke bawah—bergantung pada koneksi internet untuk pekerjaan mereka. Ia menyebutnya sebagai "hak publik".

Pembatasan tersebut perlahan mulai dilonggarkan secara terbatas—meskipun pihak keamanan menegaskan bahwa aturan itu akan tetap berlaku selama "ancaman dari musuh" masih ada.

Keamanan terlihat semakin diperketat. Kami juga merasakannya di jalan ini.

Petugas keamanan berpakaian sipil—dari kelompok sukarelawan paramiliter Basij atau Garda Revolusi Iran—sekarang ada di mana-mana.

Tidak jauh dari situ, di Lapangan Ferdowsi, beberapa kendaraan lapis baja berwarna hitam yang besar, dijaga oleh pria-pria bersenjata dengan seragam, memberikan kesan yang lebih tegas lagi.

Seperti jalan ini, lapangan itu juga dinamai dari seorang penyair Persia yang sangat dihormati.

Saya bertanya kepada arsitek itu, perubahan apa yang paling besar pengaruhnya bagi hidupnya.

"Kebebasan," jawabnya cepat dan tegas. "Kebebasan berpikir dan kebebasan untuk memiliki masa depan."

Di sepanjang jalan, sebuah kafe populer dipenuhi pelanggan yang antre untuk membeli sandwich panggang dan es kopi andalannya. Bahkan di tengah krisis, budaya kafe di Teheran tetap bertahan.

Deretan kursi di dekat jendela besar yang terbuka memberi pengunjung tempat untuk melihat langsung kehidupan jalanan.

Di kota ini, perbedaannya sangat mencolok. Perempuan dengan kerudung dan mantel panjang berjalan berdampingan dengan kelompok anak muda—baik pria maupun wanita—yang mengenakan jeans longgar, serta memiliki tindik dan tato.

Banyak perempuan, baik muda maupun tua, kini tidak lagi mematuhi aturan yang mewajibkan mereka berpakaian "sopan" dan menutup kepala. Ini merupakan dampak dari gerakan protes "Perempuan, Kehidupan, Kebebasan" yang terjadi beberapa tahun lalu—yang seperti banyak aksi protes lainnya, dibubarkan dengan kekerasan.

Aksi-aksi kecil yang memprotes kenaikan biaya hidup pada akhir tahun 2025 berkembang menjadi gelombang protes nasional anti-pemerintah pada awal tahun ini, dengan klaim ribuan orang tewas akibat penindakan aparat keamanan.

Perang yang baru saja terjadi masih membekas di pikiran Ali saat ia merokok rokok impor Napoli bersama temannya.

Adiknya ikut duduk di samping mereka, dengan rambut pendek dan kacamata biru kehijauan yang modis.

"Selama perang itu terjadi menakutkan," kata Ali. "Kami merasa sendirian. Keluarga kami berada di kota lain di Iran dan kami tidak bisa menghubungi mereka."

Masa depan mereka juga terasa menakutkan. Adiknya bercerita bahwa ia baru saja berhenti dari pekerjaannya sebagai koki karena pemilik restoran sudah tidak mampu membayarnya.

"Saya suka Presiden Trump dan saya benci Presiden Trump," kata Ali. "Saya suka dia karena dia bilang akan membantu rakyat Iran. Saya benci dia karena dia tidak melakukannya."

Saat matahari mulai terbenam, kami pergi ke salah satu dari banyak alun-alun di dekat sana, tempat para pendukung pemerintah berkumpul setiap malam sebagai respons atas ajakan pemimpin mereka untuk menunjukkan perlawanan dan solidaritas.

Di Lapangan Vali-e Asr, terlihat banyak bendera Iran berkibar dengan latar mural besar baru yang menampilkan mantan pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, yang disebut meninggal dunia akibat serangan udara Israel pada jam-jam pertama perang, 28 Februari.

Malam ini, deretan kursi yang memenuhi area tersebut dipadati orang untuk mengikuti diskusi terbuka tentang berbagai isu, seperti: apakah pemimpin mereka yang telah wafat pernah menyetujui negosiasi dengan Amerika.

Seorang perempuan berpakaian hitam dengan kerudung, dan bendera disampirkan di bahunya, berdiri dari kursinya dan dengan tegas tidak setuju dengan moderator di panggung.

Moderator itu sebelumnya mengatakan bahwa Ayatollah yang telah wafat menolak pembicaraan dengan musuh, tetapi kemudian menyetujuinya.

"Keadaannya dulu berbeda," serunya, seraya menegaskan bahwa pemimpin mereka tidak pernah mempercayai Barat dan tahu bahwa para negosiatornya akan terbukti salah.

Tak lama kemudian, topik berganti. Seorang perempuan lain mengambil mikrofon dan menekankan pentingnya hijab—penutup kepala bagi perempuan.

"Namun kita tidak perlu terlalu keras terhadap mereka yang tidak ingin memakainya. Saya pikir ini saatnya untuk persatuan nasional," katanya, dalam pernyataan yang cukup terbuka.

Seorang perempuan muda, juga berpakaian hitam dan membawa bendera, mendekati kami dan berkata dalam bahasa Inggris, "Kami hanya akan bernegosiasi dengan Presiden Trump dari posisi yang kuat."

Reyhaneh, 19 tahun, yang sedang belajar mikrobiologi di Universitas Teheran, juga memegang foto pemimpin tertinggi yang baru, Mojtaba Khamenei.

Ia menepis pertanyaan saya bahwa belum ada yang melihatnya sejak ia terluka parah dalam serangan yang menewaskan ayahnya.

"Sekarang semuanya ada di tangannya, dan juga di masa depan," tegasnya.

Saat kami meninggalkan alun-alun, tiba-tiba terdengar suara gemuruh.

Rombongan para mullah dengan sorban putih dan hitam, mengenakan pakaian kamuflase dan membawa senjata di dada mereka, melintas dengan sepeda motor—menjadi momen lain yang mengejutkan malam itu.

Perjalanan kami membawa kami kembali ke Jalan Sanaei Ghaznavi.

Pada pukul 22.30 di malam musim semi yang hangat ini, kelompok-kelompok kecil anak muda masih berkumpul di dekat restoran cepat saji dan kafe di seberang jalan.

Kami melihat Mustafa, penjual sepatu, berdiri di trotoar di depan tokonya yang terang benderang, sedang mengobrol dengan beberapa temannya.

Apakah hari ini banyak pelanggan?

"Tidak banyak," katanya sambil mengangkat bahu. "Kami hanya ingin perang ini segera berakhir."

Koresponden internasional utama BBC, Lyse Doucet, meliput dari Teheran dengan syarat bahwa tidak satu pun materi liputannya digunakan di Layanan Persia BBC. Pembatasan ini berlaku untuk semua organisasi media internasional yang beroperasi di Iran.