Fentanil, Selat Hormuz, dan kerja sama ekonomi - Apa saja isi pertemuan Trump dan Xi Jinping?

Trump, Xi Jinping, China

Sumber gambar, AFP via Getty Images

Keterangan gambar, Presiden AS, Donald Trump (kiri), berjabat tangan dengan Presiden China, Xi Jinping, di Beijing, Kamis (14/05).
Telah diterbitkan
Waktu membaca: 7 menit

Donald Trump dan Xi Jinping membahas cara-cara untuk meningkatkan kerja sama ekonomi antara Amerika Serikat (AS) dan China di pertemuan Kamis (14/05), menurut ringkasan yang dirilis oleh Gedung Putih.

Kerja sama ekonomi yang dibahas kedua kepala negara tersebut di antaranya termasuk memperluas akses perusahaan-perusahaan AS ke pasar China dan investasi China di industri AS.

Para pemimpin dari beberapa perusahaan terbesar AS turut mengikuti sebagian dari pertemuan tersebut.

Trump dan Xi juga membahas pentingnya menghentikan aliran prekursor fentanil ke AS.

Menurut pernyataan Gedung Putih pula, kedua negara sepakat bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir.

Pernyataan AS juga menyebutkan bahwa kedua pihak sepakat bahwa Selat Hormuz "harus tetap terbuka untuk mendukung kelancaran arus energi".

Selama pembicaraan, Presiden Xi "menyatakan minat" untuk membeli lebih banyak minyak Amerika guna mengurangi ketergantungan China pada Selat Hormuz, bunyi pernyataan Gedung Putih.

Xi peringatkan potensi 'konflik' dengan AS terkait Taiwan

Tak lama setelah pembicaraan dimulai, media pemerintah China sebelumnya merilis pernyataan Presiden Xi Jinping yang memperingatkan potensi "konflik" dengan AS terkait Taiwan. Adapun Presiden Trump tidak menjawab pertanyaan wartawan apakah isu Taiwan juga dibahas.

Lewati Whatsapp dan lanjutkan membaca
Akun resmi kami di WhatsApp

Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.

Klik di sini

Akhir dari Whatsapp

Trump menggambarkan hasil pembicaraannya dengan Presiden Xi Jinping sebagai "sangat baik", setelah pertemuan hampir dua jam dua kepala negara di Beijing, China, pada Kamis (14/05), berakhir.

Namun, dia tidak menyebutkan apakah isu Taiwan juga dibahas.

Pulau yang memiliki pemerintahan sendiri dan diklaim oleh Beijing tersebut menjadi salah satu sumber ketegangan utama, di samping tarif perdagangan, persaingan teknologi, dan perang Iran.

Tak lama setelah pembicaraan dimulai, media pemerintah China merilis pernyataan Xi yang memperingatkan potensi "konflik" dengan AS terkait Taiwan.

Walaupun demikian, Beijing juga memberikan sambutan meriah atas Trump: tembakan kehormatan, sambutan anak-anak dengan sorak-sorainya, hingga kunjungan ke Kuil Surga abad ke-15.

China memberikan sambutan yang megah kepada Trump—dalam diplomasi China, hal itu bukan sekadar basa-basi, melainkan memiliki makna penting, tulis koresponden BBC di China.

Trump juga didampingi sejumlah petinggi perusahaan teknologi di Beijing, termasuk Jensen Huang dari Nvidia.

Presiden China Xi Jinping (kanan) dan Presiden AS Donald Trump mengunjungi Kuil Surga pada 14 Mei 2026 di Beijing, China.

Sumber gambar, Brendan Smialowski - Pool/Getty Images

Keterangan gambar, Presiden China Xi Jinping (kanan) dan Presiden AS Donald Trump mengunjungi Kuil Surga pada 14 Mei 2026 di Beijing, China.

Di sisi lain, Presiden Xi Jinping memperingatkan adanya potensi "konflik" dengan Amerika Serikat terkait Taiwan, menurut laporan media pemerintah China.

Dia juga disebut menyebut isu tersebut sebagai "masalah paling penting dalam hubungan China-AS".

"Jika ditangani dengan baik, hubungan bilateral dapat tetap stabil secara umum. Jika tidak ditangani dengan tepat, kedua negara bisa berbenturan atau bahkan jatuh ke dalam konflik, yang akan mendorong seluruh hubungan China–AS ke situasi yang sangat berbahaya," kata Xi, seperti dikutip media pemerintah.

Dia menambahkan bahwa kemerdekaan Taiwan "secara fundamental tidak sejalan" dengan perdamaian di Selat Taiwan.

Menurutnya, perdamaian di kawasan tersebut merupakan "titik temu terbesar antara China dan AS".

Sebagai seperti, Taiwan adalah pulau yang memiliki pemerintahan sendiri, namun diklaim Beijing sebagai bagian dari wilayahnya, dan China tidak menutup kemungkinan menggunakan kekuatan untuk mengambil alihnya.

Dalam beberapa tahun terakhir, Beijing meningkatkan latihan militer—termasuk simulasi blokade—di sekitar pulau tersebut, yang memicu kekhawatiran di Taiwan dan sekutunya.

Tahun lalu, pemerintahan Trump mengumumkan penjualan senjata senilai 11 miliar dolar AS kepada Taiwan, yang saat itu dikecam Beijing dan kembali diperingatkan menjelang pertemuan hari ini.

Seperti dilaporkan Koresponden BBC di Departemen Luar Negeri AS, Tom Bateman, yang melaporkan dari lokasi pertemuan, Trump dan Xi berjalan perlahan bersama menuju Kuil Surga, sementara seorang pemandu menjelaskan lokasi tersebut dengan suara perlahan.

Anggota delegasi lainnya berjalan beberapa langkah di belakang, lebih dekat ke area taman, ketika kedua pemimpin berdiri di depan bangunan kekaisaran berwarna biru dan emas yang mencolok—bagian dari kompleks kuil tempat para kaisar di masa lalu berdoa demi hasil panen yang baik.

Xi tampak tersenyum, sementara Trump terlihat mendengarkan dengan saksama penjelasan sang pemandu, sebelum pemimpin China itu mengajaknya ke sebuah titik di mana keduanya berdiri untuk dipotret oleh fotografer.

Trump dan Xi di Beijing

Sumber gambar, Alex Wong/Getty Images

Keterangan gambar, Trump meninjau barisan kehormatan bersama Presiden Xi Jinping selama upacara penyambutan di Balai Besar Rakyat di Beijing, Kamis (14/05).

Sebelumnya, Presiden China, Xi Jinping, menyerukan agar China dan Amerika Serikat menjadi "mitra, bukan rival".

Hal itu diutarakannya menjelang pembicaraan penting dengan Presiden AS, Donald Trump, di Beijing, China, Kamis (14/05).

Menanggapi hal itu, Trump menyebut Xi sebagai "pemimpin besar" dan mengatakan hubungan kedua negara adidaya tersebut akan menjadi "lebih baik dari sebelumnya".

Sejumlah topik sensitif diperkirakan akan dibahas dalam pertemuan tersebut, termasuk tarif perdagangan, persaingan teknologi, perang Iran, dan Taiwan.

Menjelang pertemuan, Xi dan Trump berjabat tangan di atas karpet merah di luar Balai Agung Rakyat di Beijing—keduanya juga disambut anak-anak yang bersorak serta melakukan inspeksi pasukan.

Trump hadir di Beijing bersama sejumlah petinggi perusahaan teknologi, termasuk Elon Musk dari Tesla dan Jensen Huang dari Nvidia.

Sebelum kedatangannya, Trump mengatakan akan meminta China untuk "membuka diri" bagi industri AS.

Trump, yang terakhir kali mengunjungi China pada 2017, kini kembali ke negara yang semakin kuat dan semakin asertif, yang berupaya menampilkan diri sebagai kekuatan stabil.

Kedua pemimpin dijadwalkan menghadiri jamuan kenegaraan pada Kamis (14/05) malam.

Kunjungan ini semula dijadwalkan berlangsung pada Maret, namun ditunda akibat perang Iran.

Apa yang dikatakan Xi Jinping di hadapan Trump?

Dalam pernyataan pembukanya, Xi mengatakan bahwa "seluruh dunia tengah menyaksikan pertemuan kita".

Saat ini, lanjut Xi Jinping, perubahan yang belum terlihat dalam satu abad sedang dipercepat di seluruh dunia dan situasi internasional bersifat dinamis serta bergejolak.

"Dunia telah sampai pada persimpangan baru. Dapatkah China dan AS menghindari jebakan Thukydides dan menciptakan paradigma baru hubungan? Dapatkah kita bersama menghadapi tantangan global dan memberikan stabilitas lebih bagi dunia? Dapatkah kita, demi kepentingan dunia, kedua bangsa kita, dan masa depan umat manusia, membangun masa depan yang lebih cerah bagi hubungan bilateral kita?" kata Xi Jinping.

"Pertanyaan-pertanyaan ini penting bagi sejarah, bagi dunia, dan bagi rakyat. Ini adalah pertanyaan zaman kita yang harus dijawab oleh Anda dan saya sebagai pemimpin negara-negara besar," tambahnya.

Xi juga mengucapkan selamat kepada Trump dan AS atas peringatan 250 tahun kemerdekaan negara itu.

Dia lalu berujar: "Saya selalu percaya bahwa kedua negara kita memiliki lebih banyak kepentingan bersama daripada perbedaan. Keberhasilan satu pihak merupakan peluang bagi pihak lain, dan hubungan bilateral yang stabil baik bagi dunia".

Xi kemudian berkata: "China dan AS sama-sama akan memperoleh manfaat dari kerja sama dan menderita kerugian dari konfrontasi."

"Kita seharusnya menjadi mitra, bukan pesaing. Kita harus saling membantu untuk meraih keberhasilan dan kemakmuran, serta menemukan cara yang tepat bagi negara-negara besar untuk hidup berdampingan di era baru."

Xi mengatakan dia menantikan diskusi dengan Trump dan "bekerja sama dengan Anda untuk menetapkan arah serta mengemudikan kapal besar hubungan China-AS, sehingga menjadikan tahun 2026 sebagai tonggak sejarah yang membuka babak baru."

'Merupakan kehormatan menjadi sahabat Anda', kata Trump

Dalam pernyataan pembukanya, Trump mengatakan merupakan sebuah "kehormatan" dapat bertemu dengan Xi hari ini.

"Merupakan kehormatan menjadi sahabat Anda," tambahnya.

Presiden AS itu menyebut dirinya membawa "para pemimpin bisnis terbaik di dunia" dalam kunjungan ini.

Trump, Xi Jinping, China

Sumber gambar, AFP via Getty Images

Keterangan gambar, Presiden AS Donald Trump (kanan) berjabat tangan dengan Presiden China Xi Jinping di Balai Besar Rakyat di Beijing, Kamis (14/05).

"Hanya orang-orang teratas yang hadir hari ini untuk memberikan penghormatan kepada Anda," ujarnya.

Trump juga menambahkan bahwa sejumlah pihak menyebut pertemuan ini sebagai "pertemuan puncak terbesar yang pernah ada", dan dia mengatakan menantikan pembicaraan tersebut.

Soal Taiwan dan kemungkinan sikap Trump

Para analis memperkirakan Taiwan akan menjadi salah satu topik utama dalam agenda pertemuan ini.

Xi disebut dapat memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menekan Trump agar menghentikan penjualan senjata ke pulau yang memiliki pemerintahan sendiri itu.

"Yang menjadi kekhawatiran adalah Trump bisa saja mengalah, dalam bentuk tertentu, ketika Xi Jinping menekannya seperti yang selalu ia lakukan terkait isu ini," kata Julian Gewirtz, mantan direktur senior untuk Urusan China dan Taiwan di Dewan Keamanan Nasional AS.

China menganggap Taiwan sebagai provinsi yang memisahkan diri dan pada akhirnya akan berada di bawah kendali Beijing, serta tidak menutup kemungkinan penggunaan kekuatan untuk mencapai tujuan tersebut.

Taiwan, China, Trump, Xi Jinping

Sumber gambar, DANIEL CENG/AFP via Getty Images

Keterangan gambar, Kendaraan militer Taiwan berpatroli di luar Bandara Songshan di Taipei pada 14 Oktober 2024.

AS menganut kebijakan Satu China, namun tetap mempertahankan hubungan tidak resmi yang kuat dengan Taiwan—serta memiliki kewajiban hukum untuk menyediakan sarana bagi pulau tersebut untuk membela diri.

Meski para presiden AS selama beberapa dekade berpegang pada pendekatan ini, Gewirtz mengatakan kepada BBC bahwa Trump "tidak melihat Taiwan dengan sudut pandang yang sama".

"Dalam beberapa kesempatan, dia mengeluhkan dominasi Taiwan dalam industri semikonduktor," ujarnya, seraya menambahkan bahwa presiden juga menyoroti bahwa secara geografis Taiwan jauh lebih dekat ke pesisir China dibandingkan ke Amerika Serikat.

Artikel ini akan diperbarui secara berkala.