Perang robot dalam operasi militer di Ukraina jadi gambaran pertempuran di masa depan

Robot, drone, dan truk buatan Ukraina

Sumber gambar, United24

Keterangan gambar, Pesawat nirawak (drone)dan persenjataan buatan Ukraina tampak dalam video yang ditampilkan presiden negara itu, Volodymyr Zelensky.
    • Penulis, Joe Tidy
    • Peranan, Koresponden siber, BBC World Service
  • Telah diterbitkan
  • Waktu membaca: 4 menit

Medan perang di Ukraina dalam waktu dekat bisa menampilkan lebih banyak tentara robot dibanding manusia. Itulah klaim mengejutkan yang dibuat oleh sebuah perusahaan rintisan militer Ukraina‑UK.

BBC mengunjungi perusahaan manufaktur Ukraina, UFORCE, di kantor mereka di London. Tidak ada nama perusahaan di luar gedung mereka dan kantor itu dirancang secara tertutup. Langkah ini, menurut perusahaan, dimaksudkan untuk melindungi mereka dari potensi sabotase Rusia.

Saya ingin mengetahui lebih jauh tentang UFORCE. Alasannya, keterlibatan mereka di Ukraina dalam operasi militer yang disebut belum pernah terjadi sebelumnya. Militer Ukraina merebut wilayah yang dikuasai Rusia hanya dengan menggunakan robot dan drone yang diproduksi UFORCE.

Klaim itu disampaikan Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, dalam sebuah video April lalu. Video itu menyoroti senjata robotik terbaru yang dikembangkan Ukraina.

Ukraina dan Rusia telah menggunakan sistem udara dan darat tanpa awak secara luas sepanjang konflik mereka.

Para analis mengatakan, perang ini mempercepat pengembangan teknologi militer secara dramatis.

Situasi ini memunculkan perdebatan tentang masa depan konflik militer dan dampaknya bagi prajurit, baik robot maupun manusia.

150.000 misi tempur

Zelensky secara aktif mempublikasikan apa yang dia klaim sebagai pertempuran robot pertama dalam sejarah peperangan. Namun, militer Ukraina menolak memberikan rincian operasi tersebut.

Seorang perwakilan UFORCE juga tidak bersedia mengomentari pertempuran robot yang digambarkan dalam video Zelensky. Perusahaan itu hanya bisa menegaskan bahwa drone udara, darat, dan laut milik UFORCE saat ini digunakan dalam operasi tempur.

"Saya tidak bisa masuk ke detail tentang operasi itu atau bagaimana UFORCE terlibat, tapi kami telah melaksanakan lebih dari 150.000 misi tempur yang berhasil sejak invasi besar‑besaran Rusia pada 2022," kata Rhiannon Padley, Direktur Kemitraan Strategis UFORCE di UK.

Yang jelas, sistem senjata robotik merupakan bisnis bernilai besar.

Perusahaan ini telah berkembang pesat dan baru‑baru ini mencapai status "unicorn"—yang bernilai lebih dari US$1 miliar (sekitar Rp17,5 triliun).

Lewati Whatsapp dan lanjutkan membaca
Akun resmi kami di WhatsApp

Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.

Klik di sini

Akhir dari Whatsapp

Padley berkata, fenomena robot melawan robot kemungkinan akan menjadi lebih umum. Bahkan, menurutnya, persenjataan tanpa awak akan melampaui jumlah tentara manusia.

Rusia juga mengerahkan robot yang dirancang untuk mengirimkan bahan peledak ke posisi Ukraina. Para analis mengatakan, kemajuan teknologi kemungkinan akan membentuk kembali cara perang di masa depan.

"Saya benar‑benar menganggap Ukraina sebagai pengajar utama bagi masa depan pertahanan nasional dan persenjataan," kata Melanie Sisson, peneliti senior di Brookings Institution.

"Ini adalah studi kasus yang mengesankan tentang bagaimana kebutuhan mendorong penemuan," ucapnya.

UFORCE merupakan bagian dari kelompok perusahaan pertahanan yang berkembang yang disebut Neo‑Prime. Mereka kini menantang perusahaan mapan seperti BAE Systems, Boeing, dan Lockheed Martin.

Perusahaan lain adalah Anduril, perusahaan teknologi pertahanan AS yang pada Februari mengungkapkan telah melakukan uji terbang pertama jet tempur tanpa pilot.

Drone darat UFORCE – kendaraan kecil mirip tank dengan senjata besar di atasnya

Sumber gambar, United24

Keterangan gambar, Pesawat nirawak darat UFORCE diklaim dapat menyasar target dengan bantuan komputer.

Meski sebagian besar drone masih dioperasikan dari jarak jauh oleh manusia, perusahaan seperti Anduril semakin banyak mengintegrasikan kecerdasan buatan ke dalam sistem persenjataan.

Drone darat UFORCE menggunakan perangkat lunak yang dirancang untuk membantu penargetan. Sementara itu, Anduril mengatakan beberapa sistemnya dapat menyelesaikan fase akhir sebuah serangan secara otonom.

Pemerintah Amerika Serikat secara terbuka mendorong militernya untuk mengadopsi kecerdasan buatan secara agresif.

Pada Januari 2026, Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, menyebut negaranya perlu menjadi "kekuatan tempur yang mengutamakan AI".

China juga meningkatkan penggunaan sistem militer yang didukung AI, menurut penilaian Departemen Pertahanan AS yang diterbitkan pada 2025.

Menurut sejumlah analis, masa depan di mana robot secara langsung saling berhadapan di medan perang mungkin akan sulit dihindari.

"Drone Ukraina dan Rusia sudah saling bertempur," kata Jacob Parakilas dari RAND Europe, sebuah lembaga kajian militer.

"Melihat hal itu meluas ke peperangan darat dan maritim tampaknya sangat mungkin," ucapnya.

Joe Tidy dan Richard Drake di kantor pusat Anduril London berdiri di depan sebuah drone
Keterangan gambar, Anduril telah mendapat pendanaan miliaran dolar dan kontrak militer AS.

Namun kelompok advokasi hak asasi manusia memperingatkan bahwa otonomi yang lebih besar dalam sistem persenjataan menimbulkan kekhawatiran serius tentang akuntabilitas.

"Militer mengadopsi AI untuk mempercepat proses seperti identifikasi target. Namun mendelegasikan keputusan hidup dan mati kepada mesin menimbulkan risiko etika dan hak asasi manusia yang mendalam," kata Patrick Wilcken dari Amnesty International.

Kelompok produsen senjata berpendapat, mempertahankan "manusia dalam rantai keputusan" menjawab kekhawatiran tersebut. Mereka menegaskan, keputusan untuk menggunakan kekuatan tetap berada di tangan personel militer.

"Manusia membutuhkan istirahat dan makanan, dan dalam kondisi pertempuran kebutuhan itu tidak selalu terpenuhi," kata Rich Drake, pimpinan Anduril Industries di UK.

"Komputasi memungkinkan kami mengurangi kesalahan di sepanjang apa yang kami sebut rantai pembunuhan," ujarnya.