Piala Dunia 2026 di AS, Kanada dan Meksiko – Apa kostum timnas favoritmu?

    • Penulis, Ciaran Varley
    • Peranan, Wartawan BBC Sport
  • Telah diterbitkan
  • Waktu membaca: 12 menit

Menjelang Piala Dunia 2026, BBC Sport menyoroti sejumlah kostum yang akan dikenakan selama turnamen yang digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.

Dengan format baru yang diperluas menjadi 48 tim dan total 104 pertandingan di 16 kota tuan rumah, lebih banyak negara dari sebelumnya akan berusaha tampil menonjol—termasuk lewat desain kostum mereka.

Di bagian bawah artikel ini, pembaca diajak untuk memilih kostum favorit dari deretan jersey yang akan mewarnai panggung Piala Dunia.

Aljazair (kostum tandang)

Tim berjuluk Desert Foxes itu akan kembali ke Piala Dunia untuk pertama kalinya sejak 2014, ketika mereka tersingkir di babak 16 besar oleh juara saat itu, Jerman.

Argentina (kostum tandang)

Para pemain belakang lawan bakal diperdaya saat Lionel Messi berputar dan berkelok melewati mereka dengan kostum tandang bercorak pusaran.

Argentina, sang juara bertahan, memuncaki kualifikasi Amerika Selatan dengan keunggulan sembilan poin atas Ekuador yang berada di posisi kedua.

Austria (kostum tandang)

Austria lolos ke Piala Dunia 2026 untuk pertama kalinya sejak 1998.

Tim asuhan Ralf Rangnick ini akan membawa sentuhan kosmopolitan ke turnamen di AS, Meksiko dan Kanada dengan kostum tandang bermotif marmer, yang dirancang guna memperlihatkan budaya kafe khas Austria.

Belgia (kostum tandang)

Kostum tandang Belgia di Piala Dunia 2026 terinspirasi dari seniman surealis asal Belgia, René Magritte.

Seperti karya Magritte yang kerap menantang persepsi, perjalanan tim berjuluk Red Devils di kualifikasi juga penuh kejutan.

Mereka mencatat kemenangan telak 6-0 atas Liechtenstein dan Kazakhstan, namun memperoleh hasil imbang melawan Makedonia Utara dan Kazakhstan.

Brasil (kostum kandang)

Adakah yang lebih identik dengan Piala Dunia selain warna kuning dan hijau mencolok milik Selecao?

Brasil menutup kualifikasi Amerika Selatan di posisi kelima, dengan enam kekalahan dari 18 laga.

Namun, siapa yang berani menyingkirkan juara lima kali itu dari daftar kandidat kampiun?

Kanada (kostum kandang)

Kostum kandang Kanada terinspirasi dari simbol nasional negara itu, daun maple.

Sebagai salah satu tuan rumah, Kanada akan tampil di Piala Dunia dengan kebanggaan tersendiri.

Mereka sebelumnya hanya dua kali berpartisipasi di ajang ini, namun belum pernah lolos dari fase grup.

Kolombia (kostum kandang)

Bagi penggemar sepak bola era tertentu, melihat tim berjuluk Los Cafeteros bermain dengan kostum bergaris tiga akan membangkitkan kenangan tentang sosok Carlos Valderrama berambut kribo pada Piala Dunia 1990 di Italia.

Kini, harapan besar Kolombia banyak bertumpu pada pemain sayap yang berada dalam performa terbaik, Luis Díaz.

Pemain Bayern Muenchen itu akan menjadi tumpuan utama negaranya di turnamen musim panas ini.

Kroasia (kostum kandang)

Kostum kandang Kroasia dengan kotak merah dan putih kembali menghadirkan desain klasik yang membangkitkan kenangan turnamen-turnamen sebelumnya.

Meski merupakan negara kecil dengan populasi hanya sekitar empat juta jiwa, tim berjuluk Kockasti itu memiliki catatan impresif di Piala Dunia.

Mereka pernah menjadi finalis pada 2018 dan meraih posisi ketiga pada 2022.

Curacao (kostum tandang)

Negara kepulauan di Karibia itu memastikan tempat di turnamen tahun ini sebagai wakil Concacaf asuhan manajer asal Belanda, Dick Advocaat.

Banyak penggemar diyakini akan memuji keindahan kostum tim ini, yang menjadi simbol kebanggaan atas pencapaian bersejarah Curacao di panggung sepak bola dunia.

Republik Ceko (kostum tandang)

Kostum tandang Republik Ceko kali ini hadir dengan desain yang terinspirasi kristal.

Republik Ceko memastikan tempat di Piala Dunia pertama mereka dalam 20 tahun setelah menyingkirkan Denmark lewat adu penalti di babak play-off bulan lalu.

Kongo (kostum kandang)

Republik Demokratik Kongo lolos ke Piala Dunia untuk pertama kalinya dalam 52 tahun.

Kepastian itu datang setelah mereka menaklukkan Jamaika di final play-off antarbenua, berkat gol tambahan waktu dari Axel Tuanzebe yang memastikan kemenangan.

Kostum kandang tim berjuluk The Leopards pada musim 2025-26 hadir dengan motif cetak dramatis, menjadi simbol kebanggaan atas kembalinya mereka ke panggung sepak bola terbesar dunia.

Ekuador (kostum tandang)

Moises Caicedo bersama timnas Ekuador berharap meninggalkan kesan mendalam di turnamen musim panas ini.

Edisi tahun ini akan menjadi penampilan kelima bagi negara Amerika Selatan tersebut di Piala Dunia.

Pencapaian terbaik mereka sejauh ini terjadi di Piala Dunia Jerman 2006, ketika Ekuador berhasil menembus babak 16 besar.

Mesir (kostum kandang)

Kostum kandang Mesir dihiasi pola geometris yang mencerminkan akar sejarah bangsa itu.

Tim berjuluk The Pharaohs itu telah menorehkan rekor dengan tujuh gelar juara Piala Afrika, namun baru tiga kali tampil di Piala Dunia sebelumnya—pada 1934, 1990, dan 2018.

Inggris (kostum kandang)

Inggris berharap bisa tampil meyakinkan di Piala Dunia tahun ini. Namun, kostum kandang mereka justru hadir dengan nuansa yang lebih sederhana.

Mantan manajer Gareth Southgate pernah membawa tim berjuluk theThree Lions itu ke semifinal Piala Dunia 2018, lalu mencapai perempat final di Qatar 2022, selain dua kali menembus final Euro secara beruntun pada 2021 dan 2024.

Kini, di bawah arahan Thomas Tuchel, Inggris berharap inilah saatnya mereka bisa melangkah penuh dan akhirnya meraih Piala Dunia.

Prancis (kostum kandang)

Prancis kembali hadir dengan skuat yang menakutkan. Tidak ada barisan bek yang akan nyaman melihat para penyerang mereka membombardir gawang.

Tim berjuluk Les Bleus ini menjadi finalis di Qatar empat tahun lalu, dan kini digadang-gadang sebagai salah satu favorit kuat untuk menjuarai Piala Dunia tahun ini.

Jerman (kostum kandang)

Kostum kandang timnas Jerman untuk Piala Dunia 2026 akan menjadi yang terakhir diproduksi oleh merek asal Jerman, Adidas.

Pantai Gading (kostum tandang)

Kostum timnas Pantai Gading kali ini berhasil tampil mencolok sekaligus tenang, dengan perpaduan motif berulang dalam nuansa hijau lembut dan oranye.

Tim ini sebelumnya sudah tiga kali tampil di Piala Dunia—pada 2006, 2010, dan 2014—namun belum pernah lolos dari fase grup.

Jepang (kostum tandang)

Jepang akan berlaga ke Piala Dunia dengan modal kemenangan atas Inggris dalam laga persahabatan di Wembley bulan lalu.

Kostum tandang mereka tampil dengan garis-garis multiwarna yang disebut mewakili "warna-warna di balik cakrawala."

Meksiko (kostum kandang)

Kostum kandang timnas Meksiko kali ini tampil dengan motif terinspirasi dari budaya Aztec, yang sekaligus mengingatkan pada kostum ikonik yang mereka kenakan pada Piala Dunia 1998 di Prancis.

Terakhir kali negara Amerika Utara itu menjadi tuan rumah Piala Dunia, pada 1986, mereka berhasil mencapai perempat final.

Belanda (kostum kandang)

Kostum kandang timnas Belanda untuk Piala Dunia tampil minimalis dan sederhana.

Negara dengan tradisi sepak bola besar ini belum pernah menjuarai Piala Dunia, meski tiga kali mencapai final: 1974, 1978, dan 2010.

Norwegia (kostum kandang)

Norwegia akan kembali ke Piala Dunia musim panas ini setelah absen selama 28 tahun.

Pada Piala Dunia 1998 di Prancis, mereka sempat mencatat kemenangan bersejarah 2-1 atas Brasil di fase grup sebelum tersingkir oleh Italia di babak 16 besar.

Skuat tahun ini diperkuat beberapa bintang besar, termasuk Martin Ødegaard dan Erling Haaland, yang diharapkan mampu membawa tim berjuluk Løvene (Singa) itu melangkah lebih jauh di panggung dunia.

Panama (kostum kandang)

Kostum Panama kali ini pantas mendapat apresiasi.

Mereka tergabung di Grup L bersama Inggris, Ghana, dan Kroasia.

Striker Inggris Harry Kane tentu punya kenangan manis saat terakhir kali theThree Lions bertemu Los Canaleros di fase grup Piala Dunia Rusia 2018, ketika dia mencetak hattrick dalam kemenangan telak 6-1.

Portugal (kostum kandang)

Portugal akan tampil bergelombang dengan kostum yang terinspirasi dari Samudra Atlantik, yang berbatasan langsung dengan negara itu.

Skuat asuhan Roberto Martínez menjalani kualifikasi yang beragam hasilnya: menang telak 9-1 atas Armenia, lalu kalah 2-0 dari Republik Irlandia, serta ditahan imbang 2-2 oleh Hungaria—masing-masing berada di peringkat ke-59 dan ke-40 dunia menurut FIFA.

Qatar (kostum kandang)

Setelah menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022, Qatar kini berharap bisa meninggalkan jejak di kompetisi tahun ini dengan kostum kandang sederhana namun efektif, yang berlandaskan warna nasional serta pola bendera negara Timur Tengah tersebut.

Arab Saudi (kostum kandang)

Arab Saudi mengejutkan dunia ketika mengalahkan juara bertahan Argentina 2-1 di Piala Dunia 2022.

Baru-baru ini mereka kembali menjadi sorotan dengan keputusan memecat pelatih kepala Hervé Renard hanya dua bulan sebelum turnamen tahun ini dimulai.

Kostum kandang negara Timur Tengah itu tampil lebih berani dibanding edisi sebelumnya, dengan aksen ungu dan emas yang baru, berpadu dengan dasar hijau tradisional.

Skotlandia (kostum tandang)

Skotlandia kembali ke Piala Dunia setelah absen selama 28 tahun.

Skuat asuhan Steve Clarke berharap bisa lolos dari fase grup untuk pertama kalinya dalam sejarah, meski harus menghadapi tantangan berat di Grup C bersama juara lima kali, Brasil; juara Piala Afrika, Maroko; serta Haiti.

Kostum tandang mereka hadir dengan warna koral yang berani, mengingatkan pada kostum tandang Skotlandia pada 1993.

Afrika Selatan (kostum tandang)

Kostum tandang timnas Afrika Selatan mengingatkan penggemar sepak bola pada kostum tim berjuluk Bafana Bafana pada Piala Dunia 2010, ketika mereka menjadi tuan rumah Piala Dunia—sekaligus menjadi negara Afrika pertama yang melakukannya.

Saat itu mereka mencatat kemenangan bersejarah 2-1 atas Prancis.

Korea Selatan (kostum tandang)

Kostum tandang Korea Selatan tampil penuh energi dengan desain bunga di atas dasar ungu.

Tahun ini akan menjadi penampilan ke-12 mereka di Piala Dunia, sekaligus yang ke-11 secara beruntun.

Di Qatar, tim berjuluk Taeguk Warriors itu berhasil mencapai babak 16 besar, sementara di kualifikasi Asia mereka menutup perjalanan dengan status juara grup.

Spanyol (kostum tandang)

Kostum tandang timnas Spanyol hadir dengan pola grafis yang terinspirasi dari manuskrip kuno negeri itu.

Sebagai juara Eropa, mereka berharap bisa menulis bab baru dalam sejarah sepak bola Spanyol yang kaya.

Tim ini memasuki kompetisi tahun ini sebagai favorit, setelah menjalani ajang babak kualifikasi yang nyaris sempurna.

Swedia (kostum kandang)

Swedia memiliki warisan kuat di Piala Dunia, pernah menjadi runner-up pada 1958 serta menjadi juara tiga pada 1950 dan 1994.

Kostum kandang mereka kali ini mengingatkan penggemar sepak bola pada era 1970-an, dengan cetakan timbul yang terinspirasi dari bunga aster.

Swiss (kostum kandang)

Swiss bekerja sama dengan influencer Adrian Vogt saat meluncurkan kostum kandang terbaru mereka, yang terinspirasi dari desain futuristik paspor negara itu.

Kapten Granit Xhaka berharap perjalanan di Grup B berjalan mulus. Pada fase grup tersebut, mereka akan bersaing dengan Kanada, Bosnia-Herzegovina, dan Qatar.

Swiss telah tampil di 12 edisi Piala Dunia sebelumnya, dengan pencapaian terbaik mencapai perempat final pada 1934, 1938, dan 1954.

Turki (kostum kandang)

Kostum kandang timnas Turki kali ini menampilkan pola marmer, terinspirasi dari seni marbling kertas tradisional Ebru.

Uruguay (kostum kandang)

Uruguay, juara Piala Dunia dua kali, akan tampil elegan dengan kostum kandang sederhana di turnamen tahun ini.

Dua legenda, Luis Suárez dan Edinson Cavani, telah pensiun dari sepak bola internasional.

Namun kini giliran Federico Valverde dan rekan-rekannya yang berusaha menulis sejarah baru di bawah komando pelatih Marcelo Bielsa.

Amerika Serikat (kostum kandang)

Sebagai tuan rumah bersama, Amerika Serikat akan berusaha tampil menonjol di Piala Dunia tahun ini—setelah sebelumnya hanya pernah menjadi tuan rumah pada 1994.

Tim yang kini ditangani Mauricio Pochettino tergabung di Grup D bersama Paraguay, Australia, dan Turki.